10. Tiran
"Lok-Tar!!!" mahluk hijau itu menggeram.
Semua ciri fisik mahluk itu masih sama. Warna kulit hijaunya, kedua taring bawah yang mencuat keluar hingga melebihi ukuran mulut, ototnya yang gempal, lengan kiri yang putus dan tampilan brutal itu semua masih disana. Kecuali untuk beberapa hal.
Menurut Abdi, sepertinya tampilan mahluk hijau itu lebih kecil dari sebelumnya. Walaupun masih saja terlihat besar. Paling tidak ukuran mahluk tersebut masih diatas 2m.
Saravi tampak terlihat tidak senang.
"Kita tunggu dulu disini. Kita akan bergerak kalau dia berulah. Untuk sementara ini kita amati saja pergerakanya. Semoga saja firasatku salah." Saravi menyorot tajam ke arah mahluk itu.
"Kita tunggu dulu disini. Kita akan bergerak kalau dia berulah. Untuk sementara ini kita amati saja pergerakanya. Semoga saja firasatku salah." Saravi menyorot tajam ke arah mahluk itu.
Tiba-tiba mahluk itu tertawa, suaranya menggelegar. Bagi mahluk itu, tawa yang membahana itu adalah bukti kalau dia sedang bahagia, mungkin. Tapi bagi yang mendengar, mungkin akan merasa sangat terintimidasi. Rasanya tawa itu lebih mirip pertanda kalau umur mereka tidak lama lagi.
"Disini kalian rupanya." Mahluk hijau itu membuka suara.
"Aku mencari kalian kemana-mana. trom-Ka!!"
"Aku mencari kalian kemana-mana. trom-Ka!!"
Mendengar perkataan itu, Saravi semakin tidak menyukainya. Alisnya bertaut, tanganya mengepal.
"Ini gawat, orc itu bisa bicara." Ucap Saravi melalui telepati.
"Ini gawat, orc itu bisa bicara." Ucap Saravi melalui telepati.
"Eh, memangnya kenapa. Apanya yang salah kalau orc itu bicara?" Abdi tak paham.
"Kamu itu bodoh atau semacamnya, sih." Saravi mulai gusar. Sepertinya Abdi bertanya disaat yang salah, walaupun pria itu tidak benar-benar ingin bertanya. Lagi pula, ada apa dengan gadis ini. Sikap manisnya beberapa menit yang lalu, menguap entah kemana, menghilang tanpa jejak. Mode default-nya sudah kembali rupanya.
"Kita tidak punya banyak waktu disini. Aku jelaskan singkat saja." Tukas Saravi tidak sabar.
"Kau tahu, kemampuan verbal itu merupakan kemampuan dasar bagi mahluk berakal. Sedangkan menurut jenisnya, mahluk berakal hanya ada tiga, yaitu angel, manusia, dan jin. Sedangkan orc itu..."
"Kau tahu, kemampuan verbal itu merupakan kemampuan dasar bagi mahluk berakal. Sedangkan menurut jenisnya, mahluk berakal hanya ada tiga, yaitu angel, manusia, dan jin. Sedangkan orc itu..."
"Dia bukan ketiganya. Dia hanya jiwa tak berakal. Ada kemungkinan dia jadi berakal karena suatu hal." Potong Abdi seketika. Sungguh demi Tuhan, kalimat bodoh atau semacamnya itu, berhasil membuat Abdi emosi.
"Bingo. Entah sudah berapa banyak jiwa yang sudah ditelanya. Yang pasti mahluk itu telah korup. Bila sudah seperti ini, angel sudah diijinkan untuk bertindak." Terang gadis itu. Dia masih berkomunikasi lewat telepati.
Perlahan, Saravi berjalan menjauh dari Abdi, mendekati mahluk hijau yang gadis itu sebut sebagai orc. Setelah dirasa cukup dekat, Saravi berhenti. Sorot mata setajam phoenix itu menghujam lurus ke arah orc itu berada. Walaupun menyorot tajam, namun wajahnya yang mungil masih tetap menawan.
"Hei orc, apa maumu." Saravi membuka suara. "Bukanya urusanmu di dunia sudah selesai. Istirahatlah dengan tenang."
Suara Saravi lantang. Tidak, gadis itu tidak berteriak. Masih jauh volume suaranya untuk dibilang berteriak. Suara itu, bagaimana menerangkanya ya. Yah, yang jelas suara itu mempunyai kekuatan yang cukup untuk terdengar.
Orc itu tertawa.
"Kau lupa ya?" Orc itu berbicara.
"Bukanya kau berhutang satu lengan padaku." Orc itu memperlihatkan satu lenganya yang putus.
"Dan aku kemari untuk menagihnya."
"Kau lupa ya?" Orc itu berbicara.
"Bukanya kau berhutang satu lengan padaku." Orc itu memperlihatkan satu lenganya yang putus.
"Dan aku kemari untuk menagihnya."
Saravi terlihat gusar.
"Berani benar kau. Nyalimu besar juga." Saravi menyeringai.
"Yang benar saja. Mahluk korup sepertimu menuntut balas kepada angel sepertiku. Ayolah, kau menggelikan."
"Berani benar kau. Nyalimu besar juga." Saravi menyeringai.
"Yang benar saja. Mahluk korup sepertimu menuntut balas kepada angel sepertiku. Ayolah, kau menggelikan."
"Ah, sayang sekali." Orc tersebut menghela napas. Bahunya diturunkan lepas. Kepalanya menggeleng pasrah. Dan itu semua hanya pura-pura.
"Padahal aku sudah membuat persiapan kecil, Lok-Tar. Agar kita bisa bersenang-senang sebentar." Kata orc tersebut dengan nada sedih yang tetap saja masih dibuat-buat.
"Padahal aku sudah membuat persiapan kecil, Lok-Tar. Agar kita bisa bersenang-senang sebentar." Kata orc tersebut dengan nada sedih yang tetap saja masih dibuat-buat.
"Tutup mulutmu orc, apa maksudmu dengan persiapan kecil, hah!" Hardik Saravi.
"Kau, sial. Sudah berapa banyak jiwa yang kau telan."
"Kau, sial. Sudah berapa banyak jiwa yang kau telan."
Orc itu mengusap dagu.
"Berapa banyak ya?" Mahluk itu berpikir pura-pura.
"Aku lupa, lagi pula jari tanganku kan, cuma lima. Atau kau mau meminjamkan jari tanganmu. Oh iya, ditambah dua jemari pria dibelakangmu itu juga boleh." Tawa Orc itu menggelegar.
"Berapa banyak ya?" Mahluk itu berpikir pura-pura.
"Aku lupa, lagi pula jari tanganku kan, cuma lima. Atau kau mau meminjamkan jari tanganmu. Oh iya, ditambah dua jemari pria dibelakangmu itu juga boleh." Tawa Orc itu menggelegar.
"Aku peringatkan kau, dasar monster sialan." Nada geram Saravi sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Kalau kau berani menyentuhnya barang secuil, maka akan aku pastikan kau akan memohon kematian padaku."
"Waaah, galak sekali." Orc itu masih tertawa.
"Aku jadi kasihan dengan priamu itu, pasti dia kewalahan menghadapimu."
"Aku jadi kasihan dengan priamu itu, pasti dia kewalahan menghadapimu."
Sontak Abdi menahan tawanya mati-matian mendengar pernyataan monster itu. Bahkan membenarkan dalam hati.
Sedangkan Saravi cuma bisa mengumpat dalam hati dan memperingatkan Abdi lewat telepati agar pria itu tidak tertawa, atau pria itu akan menyesal. Saravi berusaha tidak salah tingkah dengan bersikap wajar.
"Monster besar dengan mulut besar." Saravi mencoba memprovokasi. Kemarilah, akan kubuat tanganmu putus sebentar lagi."
Orc itu terpancing. Tawa menggelegar itu berhenti sudah. Dahinya berkerut. Geraman marah keluar dari mulutnya. Sikap brutalnya kembali.
"Bersiap!" Saravi memperingatkan Abdi lewat telepati. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi pertempuran.
"Garosh-kar!!" Orc itu meraung sekeras-kerasnya. Kedua lututnya tertekuk lalu dalam sekejap tubuhnya terhempas ke udara. Seolah kedua lutut itu seperti memiliki semacam pegas yang siap melontarkan apa saja diatasnya.
Seketika itu, kedua kaki besar milik Orc itu mengarah kearah Saravi yang sedang berdiri.
Kaki itu menghantam tanah!
Tidak!
Saravi tidak terinjak.
Beberapa detik sebelum kaki Orc tersebut mengenai tubuhnya, Saravi yang telah bersiap menghindari serangan, berkelit.
Gadis itu sedikit memiringkan badanya kebelakang. Saat kaki besar itu menghantam permukaan tanah, Saravi melompat ke belakang.
Sayap kuning yang tadinya tergulung, kini terbuka lebar. Sayap itu kemudian terlihat seperti mengepak dengan gerakan yang elegan. Sedangkan untuk bentuknya, sayap itu lebih mirip sayap serangga daripada burung. Dan bentuk sayap ngengat bisa dikatakan menyerupai bentuk sayap angel itu. Dengan sayap tersebut sosok angel terlihat lebih anggun dan angkuh disaat yang bersamaan.
Setelah sayapnya terbentang, tubuh sexy Saravi melayang ringan di angkasa. Serangan Orc itu belum mengendur. Setelah tidak berhasil menginjak Saravi, monster itu membuka serangan baru.
Setelah mendarat, dengan kaki yang masih tertekuk dan tubuh sedikit merunduk, orc itu menjulurkan tangan kananya ke depan.
Dengan jemari yang sudah mengepal sempurna, dia merangsek. Targetnya adalah Saravi. Rupanya, kepalan tangan itu ingin dia hadiahkan kepada sang angel. Tanpa ragu, lengan beserta kepalan itu menghujam deras.
*DUAAGG!!
Kena!!
Tubuh bagian pinggang Saravi terkena pukulan. Angel itu tidak memmpersiapkan diri. Dia tidak siap sehingga pukulan itu tepat sasaran. Saravi tidak mempersiapkan diri dengan kecepatan serangan monster itu, padahal postur tubuhnya sebesar itu.
Tubuh sang angel terhempas ke belakang. Tapi tidak lama. Sepersekian detik, Saravi berhasil mengendalikan tubuhnya. Keseimbanganya berhasil kembali, tubuhnya batal terjun bebas.
Saravi melayang mundur, menghampiri Abdi. Setelah mendarat, sayapnya tergulung.
"Monster itu, kekuatanya diluar perkiraanku.." Saravi menyorot tajam ke arah monster itu.
Abdi mengangguk tanda setuju.
"Sepertinya begitu. Aku tadi merasakan saat kau terkena pukulan darinya."
"Sepertinya begitu. Aku tadi merasakan saat kau terkena pukulan darinya."
Mendengar pernyataan Abdi, Saravi terperanjat. Dia menoleh cepat ke arah pria itu.
"A-apa yang kau bilang barusan? Kau dapat merasakanya. Ba-bagaimana bisa!!?" Saravi tergagap.
"A-apa yang kau bilang barusan? Kau dapat merasakanya. Ba-bagaimana bisa!!?" Saravi tergagap.
Abdi menaikan bahu.
"Mana aku tahu. Itu terasa begitu saja. Memangnya ada masalah?" Abdi balik bertanya.
"Mana aku tahu. Itu terasa begitu saja. Memangnya ada masalah?" Abdi balik bertanya.
Tipis, Saravi tertawa. Tawa dengan penuh arti. Takjub sekaligus ngeri.
"Kejutan apa ini. Setelah cemeti sekarang yang ini, pantas saja pukulan tadi tidak berasa apa-apa..." Gumam Saravi.
"Kejutan apa ini. Setelah cemeti sekarang yang ini, pantas saja pukulan tadi tidak berasa apa-apa..." Gumam Saravi.
"Kau bicara sesuatu?" Abdi memperhatikan sang angel.
Saravi menggeleng. "Bukan apa-apa. Sepertinya kau punya kemampuan yang bernama Espher Link."
"Apa itu. Apa itu berguna?"
"Sangat. Itu kemampuan pasif yang berguna menyerap kerusakan dan membaginya berdasarkan jumlah espher. Dan sekarang, beri aku cemeti!" Pinta Sang angel.
Abdi mengangguk. Pria itu berfokus. Dalam sekejab, cemeti itu muncul. Kemudian cemeti itu dihantamkan ke tubuh Saravi.
"...aaahn!!"
Saravi mendesah tertahan. Matanya terpejam. Sepertinya sang angel menikmati rangsangan itu.
Cemeti di tangan Abdi seketika hilang setelah benda tersebut menghantam tubuh Saravi. Beberapa saat ketika pendar cahaya yang sejak tadi berada di tubuh Saravi, makin terang.
Abdi sadar, setelah melihat perubahan Saravi, bahwa angel itu telah menerima tambahan dukungan kekuatan.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan Saravi, Abdi telah sedikit banyak mempelajari beberapa hal. Sepertinya dalam benaknya merasakan sebuah visi mengenai kondisi dirinya dan angel. Dan sekarang, setelah di cemeti Abdi merasakan kemampuan dasar Saravi yang berupa kekuatan, kegesitan, dan kecerdasan meningkat.
Setelah bersinar dengan lebih terang, Saravi menatap tajam kearah targetnya, senyum kecilnya tersungging. Dia terlihat percaya diri.
Saravi melangkah maju. Dia mulai melayang bersamaan dengan sayap yang terkembang. Setelah mengembang sempurna dan dengan ketinggian yang cukup, Saravi bergerak maju.
Dalam satu kali kibasan, sayap kuning vermillion itu menghantarkan tubuh empunya maju ke depan. Merangsek dengan kecepatan penuh, melesat ke arah dimana orc itu berada. Disisi lain, orc tersebut tengah bersiap menghadapi. Dia sedang mempersiapkan strategi untuk menghalau serangan.
Setelah dirasa momentumnya telah tiba, orc tersebut mengangkat tangan kananya yang masih utuh. Dia bermaksud menghalau dengan cara menghujamkan kepalan tanganya dari atas ke bawah.
Saravi merangsek!
Kepalan dihujamkan!
Saravi berkelit!
Dia berhasil menghindari serangan dengan bersih. Tujuanya adalah bagian torso. Setelah dirasa memasuki jangkauan serang, Saravi menggulung sayapnya. Setelah dirasa sayap itu tergulung sempurna, sang angel memutar tubuhnya dari kiri ke kanan. Sembari mengayunkan kaki, Saravi menghempaskan anggota tubuhnya yang jenjang dan memakai high heel boots itu kearah ulu hati targetnya, orc.
*Duaagg!
Kena!
Tendangan itu mengenai sasaran. Orc terhuyung kebelakang. Tubuhnya merunduk. Akan terjatuh namun urung. Dia berhasil mengembalikan keseimbanganya.
Setelah sempat terhuyung, orc itu berhasil tegak kembali. Ekspresinya tampak kesal.
"Trom-Ka!"
Sebuah raungan dan orc itu menerjang. Satu pukulan terarah dan Saravi menghindar. Untuk serangan kecil itu, Saravi menghadiahi sebuah tendangan. Serangan cantik itu berhasil mengenai kepala lawan, orc. Beberapa saat kemudian terjadi saling serang. Tidak seimbang, terlihat serangan Saravi banyak yang mengenai sasaran. Walau masih jauh dari kata mengalahkan.
Di belakang, Abdi merasakan dan mengamati berdasarkan apa yang Saravi rasakan. Abdi sedang mencari tentang rahasia kekuatan orc tersebut. Tadi, beberapa saat sebelum menyerang, ada letupan kecil yang mendahuluinya. Sepertinya itu rahasianya dan Abdi ingin mempelajarinya, siapa tau berguna. Abdi pun mempertajam visinya.
"Masih lama main-mainya?" Saravi mendengar suara di dalam kepalanya. Telepati dari amongnya.
"Apa maksudmu?" buruk, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Ayolah, apa menurutmu, seranganmu bisa membunuhnya?" Abdi terhenti sejenak mengambil jeda.
"Jangankan membunuh, menjatuhkan saja tidak bisa."
"Jangankan membunuh, menjatuhkan saja tidak bisa."
Saravi tidak menyukai pernyataan itu walaupun itu benar. Angel tersebut menanggapi sembari menendang pinggang mahluk hijau itu.
"Apa kamu punya rencana?"
"Apa kamu punya rencana?"
Tidak ada jawaban, senyap. Saravi memutar matanya jengah. Sudah pasti Abdi tidak ada jalan keluar. Hingga Saravi merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya.
Sesaat sebelum menyerang, terlihat letupan kecil yang mendahuluinya. Tendangan dihempaskan dan hasilnya.
Orc itu terdorong.
Kebelakang beberapa meter.
Saravi terperanjat, orc itu juga berekspresi sama. Letupan kecil dengan daya hancur besar.
"Bagaimana dengan itu?" Suara di dalam kepala Saravi, lagi.
"Apa itu bisa membuatmu serius. Aku merasa ada dua kemampuanmu yang belum digunakan."
"Apa itu bisa membuatmu serius. Aku merasa ada dua kemampuanmu yang belum digunakan."
Saravi terdiam, mulutnya tak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu. Among macam apa yang sedang bersamanya saat ini. Jangankan menyalin kemampuan lawan, bahkan dia bisa tahu kemampuan yang belum digunakan. Bukanya Saravi tidak ingin menggunakan kemampuan itu, melainkan, harga yang dibayar untuk mengeluarkan kemampuan itu cukup tinggi.
Tipis, senyum sang angel penuh arti. Sepertinya dilepaskan saja. Telepati, cemeti espher, espher link, limpahan espher, dan yang terakhir soil. Sepertinya akan baik-baik saja itu dilepaskan, walaupun konsumsi esphernya tinggi. Lagi pula, jumlah espher Abdi cukup melimpah.
Saravi mengambil sesuatu dari punggung tangan sebelah kiri, pada sarung tangan itu terdapat kristal berwarna kuning. Sesuatu keluar dari sana.
Sebuah flute!
Kristal itu pasti tempat angel menyimpan senjata. Setelah bersiap, Saravi meniup flute-nya. Soil pun meletup. Satu buah nada mengalun merdu.
Merdu!
Sendu!
Menyayat!!
*BLAAZT!!!
Orc tersebut meraung. Dia terjungkal ke belakang. Ternyata suara itu memiliki daya rusak. Dan yang lebih berbahaya lagi, adalah serangan itu tanpa wujud. Hanya suara, dan kerusakan.
Abdi tersenyum puas melihat aksi Saravi. Jadi sekarang tinggal satu kemampuan lagi. Semoga orc itu bungkam selamanya.
Monster itu sulit tumbang lebih karena kulitnya yang tebal dan liat. Andai saja ada sesuatu yang dapat mengiris.
Orc itu bangkit. Wajahnya tidak senang, dia terlihat murka.
Serangan demi serangan dilepaskan ke arah Saravi. Sang angel dengan gesit menghindar. Namun gerakan menghindar Saravi tidak terlalu jauh dari orc itu. Sepertinya ada maksud tertentu dibalik gerakan itu.
"Kenapa cuma menghindar?" Tanya Abdi penasaran. "Apa serangan dengan musik itu cuma sekali."
"Bukan begitu!". Jawab Saravi ditengah usahanya menghindar. "Serangan itu membutuhkan jarak tertentu. Kalau terlalu jauh, seranganya diluar jangkauan. Kalau terlalu dekat, aku tidak bisa konsentrasi karena sibuk menghalau serangan. "Sial!" Sepertinya Saravi terkena serang.
"Gunakan tendangan saja."
"Haah,...apa maksudmu? Ehm, sepertinya kau benar. Kenapa tak terpikirkan olehku." Saravi sepertinya mendapatkan pencerahan. Lampu pijar menyala diatas kepalanya.
Seketika, sebuah round house kick mendarat di kepala monster hijau itu. Dia terjungkal ke belakang, kesempatan yang tidak disia-siakan oleh Saravi.
Angel itu mengambil jarak. Sebuah nada mengalun pilu, menyayat hati. Orc itu bangkit, menatap nanar ke arah pelantun lagu, Saravi.
Orc itu melompat!
Saravi masih memainkan lagu!
Kaki orc diatas Saravi!
Saravi bergeming!
Benturan!?
"Aaargh!"
Sebuah raungan. Orc itu yang meraung. Penyebabnya, sebuah benda berbentuk bulat pipih berada diatas dan menaungi Saravi. Naas, kaki orc tersebut terpotong. Apapun itu, sepertinya benda bundar pipih itu cukup tajam.
Orc itu tersungkur tak berdaya. Hanya satu lengan yang tersisa. Monster itu sadar bahwa dia akan terbunuh, lagi.
Saravi mendekat. Dengan dingin dia berujar.
"Apa pernyataan terakhirmu, mahluk korup."
"Apa pernyataan terakhirmu, mahluk korup."
Monster itu menyeringai.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, aku tersanjung." Sarkasnya.
"Ketahuilah, aku ini hanya pion yang dikorbankan. Mulai saat ini Yang Mulia Tiran dan Yang Mulia Tiamat sudah bergerak." Orc itu mengerang lalu tertawa, tawa yang dipaksakan.
"Dunia ini akan berakhir."
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, aku tersanjung." Sarkasnya.
"Ketahuilah, aku ini hanya pion yang dikorbankan. Mulai saat ini Yang Mulia Tiran dan Yang Mulia Tiamat sudah bergerak." Orc itu mengerang lalu tertawa, tawa yang dipaksakan.
"Dunia ini akan berakhir."
Mendengar pernyataan itu Saravi terperanjat. Tanganya segera menutup mulutnya yang ternganga. Dia tak percaya.
"A apa k kau bilang!?"
"A apa k kau bilang!?"
Monster itu terdiam. Dia berbaring terlentang. Dia siap menjemput ajal kedua kalinya.
Merasa percuma dan tak akan mendapat jawaban, Saravi menghujamkan benda bundar pipih itu kearah monster itu secara vertikal.
*Craash.
Tubuh dan kepala itu terpisah. Lehernya terpotong. Sementara itu, setelah setelah menunaikan tugasnya, benda bundar pipih itu berubah menjadi seperti cipratan air, atau memang itu adalah air, entahlah.
Badan monster yang terpisah kepalanya itu mengalami perubahan. Tubuhnya menjadi bola cahaya sebesar kepala orang dewasa. Saravi mendekat, disentuhnya bola cahaya itu dengan ujung flute-nya. Bola itu menghilang, seperti terserap. Bersamaan dengan itu, Abdi merasa segar. Mungkin bola itu mengisi sesuatu didalam tubuhnya entah apa.
Tapi, saat ini, Abdi merasa kalau ekspresi wajah Saravi terlihat keruh. Dia tidak senang. Namun Abdi tidak bicara, yang jelas suasana hati gadis ini sedang tidak baik. Mungkin karena perkataan orc itu. Yang jelas, Abdi siap mendengarkan jika Saravi bicara.
"Kita kembali." Yang itu berarti keluar dari alam jeda. Artinya, Abdi harus mencium Saravi kembali. Dengan wajah muramnya itu, sepertinya itu ide buruk.
Saravi, tersenyumlah.
Tiba-tiba, terjadi distorsi diudara, sebuah lubang yang membelah udara muncul. Saravi yang masih dalam kondisi siaga, menghadap lubang portal itu, alisnya bertaut, mulutnya mendesis.
Beberapa sosok keluar dari dalam portal. Mereka semua seperti monster. Abdi masih bergulat dengan pikiranya, tatkala sosok berjubah hitam dengan memanggul scythe.
"Tiran!!" Desis Saravi. "Apa maunya!?"
Tiran berjalan kearah Saravi, para monster itu ikut dibelakangnya. Ada yang besar dan ada yang kecil. Ada juga yang melayang beberapa saat dan hinggap di bahu tiran. Ada juga anak kecil yang ikut tanpa menutup penampilanya dengan jubah.
"Saravi, apa kabar, chi." Abdi mengerutkan dahi. Itu bukan suara Tiran, melainkan mahluk mirip tupai terbang yang hinggap dibahunya.
"Bagaimana bingkisanku tadi, chi. Kau suka?"
"Bagaimana bingkisanku tadi, chi. Kau suka?"
"Apa maumu, Tiran!?" tukas Saravi. Suaranya ketus, matanya nyalang, wajahnya nampak tidak suka, dan sikapnya tidak bersahabat. Apapun itu, tampaknya bukan pertanda baik.
Seakan tidak terpengaruh atas hardikan Saravi, tiran mengalihkan perhatian kearah Abdi.
"Ah, inikah amongmu sekarang!?" Tiran kemudian berjalan kesana-kemari. Kerudung hitam itu menyembunyikan wajah Tiran. Jadi, tidak ada yang tahu ekspresinya.
"Ah, inikah amongmu sekarang!?" Tiran kemudian berjalan kesana-kemari. Kerudung hitam itu menyembunyikan wajah Tiran. Jadi, tidak ada yang tahu ekspresinya.
Tiba-tiba Tiran seakan teringat sesuatu.
"Ah iya, aku belum memperkenalkan diri, chi." Kata Tiran atau tupai itu tanpa beban.
"Aku Tiran, angel, sama seperti Saravi." Kalimat itu jeda sesaat. "Anak kecil itu bernama Kira, chi." Sepertinya itu nama anak kecil tanpa ekspresi itu. "Dan tupai imut ini, chi. Muku-muku, juru bicara Yang Mulia Tiran, chi. Salam kenal."
"Ah iya, aku belum memperkenalkan diri, chi." Kata Tiran atau tupai itu tanpa beban.
"Aku Tiran, angel, sama seperti Saravi." Kalimat itu jeda sesaat. "Anak kecil itu bernama Kira, chi." Sepertinya itu nama anak kecil tanpa ekspresi itu. "Dan tupai imut ini, chi. Muku-muku, juru bicara Yang Mulia Tiran, chi. Salam kenal."
"Cukup basa-basinya." Suara Saravi lantang. "Apa maksudmu dengan mengumpulkan para monster itu!?" Pandangan Saravi tertuju kearah gerombolan monster yang datang bersama Tiran.
Tiran tidak langsung menjawab. Tubuhnya berbalik dan berjalan mendekati Saravi. Angel berjubah serba hitam itu baru berhenti setelah berada cukup dekat dengan Saravi.
"Memangnya, apa menurutmu, chi." Tiran berjalan kesamping kiri Saravi.
"Aku hanya membantu Tiamat, chi. Lagi pula, mereka itu merupakan jiwa-jiwa yang mati tak wajar, chi."
"Aku hanya membantu Tiamat, chi. Lagi pula, mereka itu merupakan jiwa-jiwa yang mati tak wajar, chi."
Saravi mengerang kesal.
"Bisa-bisanya kalian berdua saling kerjasama membuat kerusuhan seperti ini!" Ujar Saravi ketus. "Bukanya kamu tahu, walaupun jiwa-jiwa ini bermasalah di dunia, tapi, mereka sangat berharga dihadapan Sang Hyang Wenang. Bukan sampah yang menjadi pion sekali buang."
"Bisa-bisanya kalian berdua saling kerjasama membuat kerusuhan seperti ini!" Ujar Saravi ketus. "Bukanya kamu tahu, walaupun jiwa-jiwa ini bermasalah di dunia, tapi, mereka sangat berharga dihadapan Sang Hyang Wenang. Bukan sampah yang menjadi pion sekali buang."
"Berharga ya, chi. Biar kupikir lagi." Tiran terdiam sejenak. Dia pura-pura berpikir.
"Ah iya, aku ingat, chi." Tiran berlagak teringat sesuatu.
"Mungkin kau lupa, chi. Mereka itu cuma jiwa, bukan nyawa, chi. Jadi mereka masih tinggal di dunia beberapa lama. Bukan nyawa yang akan berpulang." Tiran berjalan kembali kedepan Saravi.
"Lagi pula, chi. Dengan begini mereka akan menjadi sedikit berguna, chi."
"Ah iya, aku ingat, chi." Tiran berlagak teringat sesuatu.
"Mungkin kau lupa, chi. Mereka itu cuma jiwa, bukan nyawa, chi. Jadi mereka masih tinggal di dunia beberapa lama. Bukan nyawa yang akan berpulang." Tiran berjalan kembali kedepan Saravi.
"Lagi pula, chi. Dengan begini mereka akan menjadi sedikit berguna, chi."
Saravi menggeleng tak percaya.
"Ironis sekali, berguna dengan cara sekali buang. Menyedihkan!"
"Ironis sekali, berguna dengan cara sekali buang. Menyedihkan!"
"Yah, mau bagaimana lagi, chi. Dunia ini sudah korup, chi. Apa yang bisa diharapkan." Tiran nengusap-usap gagang scythe.
"Tenang saja, chi. Kami cuma menggunakan jiwa yang mati dalam kondisi buruk saja, chi. Bukan jiwa orang suci atau mereka yang mati dalam keadaan baik." Tiran mendekatkan kepalanya kearah kepala Saravi.
"Mau bergabung, chi?"
"Tenang saja, chi. Kami cuma menggunakan jiwa yang mati dalam kondisi buruk saja, chi. Bukan jiwa orang suci atau mereka yang mati dalam keadaan baik." Tiran mendekatkan kepalanya kearah kepala Saravi.
"Mau bergabung, chi?"
Saravi terdiam. Angel itu tidak berkata apa-apa. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Sesekali Saravi menatap Abdi lewat sudut matanya. Seolah meminta pendapat atau meminta bantuan untuk lepas dari kebimbangan ini.
Lewat benang espher yang dia punya, Abdi sebenarnya tahu angel-nya sedang bimbang. Abdi merasa bahwa, Tiran menemui Saravi memang berniat merekrutnya dari awal. Selain itu, dengan membawa pasukan monster sebanyak itu, Tiran berusaha mengintimidasi mereka.
Memang benar, jika terjadi pertempuran, akan merepotkan jika lawan sebanyak itu. Tapi, siapa tahu, pertempuran tidak selalu tentang jumlah, faktor strategi dan keberuntungan juga berperan. Hasilnya belum tahu kalau belum dicoba. Yang jelas, saat ini Abdi hanya mau bicara dulu.
Setelah berbicara dengan Saravi lewat telepati tentang niatnya untuk ikut dalam perbincangan dengan dua angel itu, Abdi membuka suaranya.
"Aku tidak terlalu paham apa yang kalian bicarakan. Rasanya rumit sekali." Abdi berkata dengan memandang Saravi dan Tiran secara bergantian.
"Tapi yang aku tangkap, kalian merasa bahwa manusia hanya sebagai obyek saja." Saravi mulai mendengarkan, Tiran berbalik arah menghadap Abdi, sedangkan Abdi sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara lebih lanjut.
"Tapi yang aku tangkap, kalian merasa bahwa manusia hanya sebagai obyek saja." Saravi mulai mendengarkan, Tiran berbalik arah menghadap Abdi, sedangkan Abdi sedang mengumpulkan keberanian untuk berbicara lebih lanjut.
"Kami manusia adalah subyek bagi diri kami sendiri, dunia kami sendiri. Itu juga berlaku untuk setiap bagian dari kami. Termasuk raga, jiwa, dan nyawa. Bagaimana bisa, kalian mengeksploitasi salah satunya." Ok, ini dia akibat bergaul akrab dengan wali kelas.
"Tapi, manusia sudah korup, chi."
"Begitu menurutmu?" Abdi menjeda kata, mengumpulkan keberanian, lagi. "Kau lupa, bahwa sebaik-baiknya manusia, pasti ada buruknya, begitu pula sebaliknya. Lagi pula, baik angel atau manusia adalah sama-sama diciptakan, tidak berhak menilai satu sama lain. Tidak mungkin sesama murid saling memberi nilai.
" Fix, ini akibat intim dengan Tasya.
*****
Injak saja bintang kecil dipojok kiri bawah, atau pahat komen sesuka hati.
Sumpah, aku butuh masukan.Matur sembahnuwun.
Komentar
Posting Komentar