9. Angel

"Abdi, terima kasih banyak atas malam ini."
"Um, i iya.. . tidak masalah" ,
"Apa setelah dari sini, kamu langsung pulang?"
Hening, tidak ada jawaban. Percakapan itu terjadi di depan pintu suatu ruangan. Di sebuah koridor panjang,  yang mana, ada beberapa daun pintu yang melekat pada dinding salah satu koridor tersebut.
"Begitulah." Suara tersebut terhenti sesaat. 'Terima kasih"
Lawan bicara sosok itu terdiam. Senyum yang terulas sejak tadi hingga kini belum menghilang. Nampaknya suasana hati sosok itu dalam kondisi yang baik. Dia merasakan desiran aneh namun menyenangkan sedang mengalir lembut di setiap denyut nadinya.
Nampak sosok itu mengerjab. "Terima kasih? Untuk apa? Setahuku tidak ada satu tindakan pun dariku yang pantas diberikan terima kasih."
Kalkulatif, itu yang terasa saat kalimat itu terucap. Itu wajar bila diucapkan oleh seseorang yang memiliki riwayat akademis yang bagus. Setidaknya begitu.
Percakapan itu melibatkan dua sosok, seorang pria, dan seorang gadis. Tampak sang gadis berdiri diantara dinding yang berada di sebelah pintu, dan seorang pria yang berada didepanya. Mereka saling berhadapan. Sesekali, gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding dibelakangnya. Sebelah kakinya terkadang dimainkan, berayun ke depan, dan belakang secara bergantian.
"Entahlah, menonton performa ku di taman, mungkin.." ujar pria itu tidak terlalu yakin. "Atau untuk menemaniku berkegiatan seharian ini."
Menemanimu seumur hidup, aku juga bersedia.
"Bukankah itu wajar." kerlingan nakal tiba-tiba terbit disudut mata gadis itu. "Bukankah aku ini wali kelasmu. Jadi, wajar bukan. Kalau, aku memantau apa saja yang dikerjakan anak didiku, diluar sekolah. Terutama, buat seorang murid dengan absensi alpha yang sudah mengkhawatirkan, seperti dirimu itu, Abdi."
"Betul juga." ucap Abdi seraya mengangguk-anggukan kepala. "Hanya saja, aku berharap, semoga besok tidak ada sebuah artikel di koran sekolah, atau di media sosial yang menyatakan, bahwa seorang wali kelas memaksa seorang muridnya untuk berkencan. Sedangkan murid tersebut masih dibawah umur. Lalu, disitu juga terpampang fotomu yang sedang menggamit lenganku."
Gadis itu tertawa geli, mendengar ucapan Abdi. Sebenarnya, bagi gadis itu, ajakan Abdi hari ini memberinya sebuah pengalaman baru. Tentang bagaimana suasana taman jadi lebih hidup, karena kedatangan Abdi, dan Sora. Bagaimana usaha keras mereka untuk menyenangkan para pengunjung, dan berusaha membaur dengan mereka. Apalagi, saat Savitri, dan Saravi ikut bergabung, tampak Abdi, dan Sora dapat mengimbangi. Padahal, mereka baru saja bermain bersama saat di kedai, yang itu berarti, baru beberapa jam yang lalu. Dan yang penting adalah wajah puas para pengunjung. That was goal and great job.
Tiba-tiba, gadis itu menegakan punggung, melepaskan diri yang sejak tadi bersandar di dinding. "Sepertinya aku mau masuk duluan." ujar gadis itu kepada Abdi.
Abdi mengangguk, kemudian mencondongkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Selamat malam Tasya, selamat tidur, semoga mimpi indah." bisiknya, kemudian menarik kepalanya ke posisi semula.
"Selamat malam juga. Kamu hati-hati di jalan, ya."
"Iya."
Abdi kemudian memutar tubuhnya, dan melangkahkan kaki, meninggalkan Tasya. Sedang Tasya, gadis itu masih bergeming. Kakinya masih belum bergeser barang seinci pun dari tempat berdirinya saat ini. Pandanganya masih terkunci pada satu target, punggung Abdi. Dipandanginya punggung dengan tas gitar yang tergantung disana. Menjauh, selangkah demi selangkah. Tidak berselang lama, punggung itu pun menghilang di balik koridor.
Tasya berjalan, perlahan. Menuju pintu, dan membukanya. Setelah pintu itu terbuka, Tasya segera masuk. Setelah memastikan dirinya berada di dalamruangan, pintu itu tertutup.
Kembali, punggung Tasya bersandar di pintu. Pandangannya menerawang.
"Kau tahu Abdi, ini adalah kencan pertamaku." bisik Tasya yang hampir tidak terdengar pada dirinya sendiri.
Terlihat, Tasya membayangkan sesuatu. Tentang ajakan makan, tentang sikap manis Abdi saat di kedai, tentang ucapan selamat malam beberapa menit yang lalu.
Ah, manisnya.
***
Disuatu tempat, di sudut lobby, tampak Saravi duduk dengan malas, dan memandang keluar. Gadis itu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela kaca yang sangat lebar. menariknya, seluruh dinding tempat itu adalah kaca. Di luar, tampak hujan sudah reda, namun belum berhenti. Tampak jejak hujan yang terlihat seperti bulir-bulir air itu, menempel pada dinding kaca. Sesekali, kepalanya di topang tangan atau diletakan diatas meja.
Sesekali, Saravi menggerutu. Beberapa, berupa perkataan tidak jelas, sebagian lagi seperti pernyataan bahwa, aku bisa mati bosan, atau semacamnya. Raut wajah gusar ditampakan Saravi sembari masih memandang keluar.
"Masih gerimis rupanya."
Pelan, Saravi menoleh kearah sumber suara tersebut. Dia mendapati sosok pria tidak jauh darinya. Bahkan wajah pria itu hanya berjarak kurang dari sejengkal.
Tanpa ekspresi yang berarti, Saravi kembali memandang keluar. Dia tidak berkata apapun. Mengetahui Saravi terdiam, pria itu mundur dan menegakan punggung kembali.
Saravi mengawasi gerak-gerik pria itu dari pantulan samar kaca, dihadapanya. Sebenarnya, saat Saravi menoleh tadi, dia tidaklah baik-baik saja. Jika diperhatikan lebih lanjut, sebenarnya pupil mata gadis itu melebar. Saat wajahnya kembali melihat keluar, Saravi memegang erat dadanya. Dia merasa kalau sesuatu didalamnya bisa melompat keluar, sewaktu-waktu. Belum lagi, dia merasa wajahnya memanas. Sepertinya, rona itu terlihat bila Saravi tidak langsung kembali .
"Jadi, apa rencana kita sekarang Abdi." ujar Saravi tanpa menoleh.
Abdi menurunkan tas gitarnya. Menyandarkan benda itu perlahan ke tepian meja. Setelahnya, pria itu duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah Saravi. Punggungnya bersandar di sandaran kursi.
"Kita tunggu sebentar lagi." Abdi mengatur posisi duduknya. Duduknya sedikit turun kebawah. Kakinya yang tertekuk, diluruskan. Jemari tanganya saling mengait, dan diletakan diatas perut, tengkuknya bersandar dipinggir sandaran kursi, matanya terpejam. "Kalau belum reda juga, kita panggil taxi daring."
Perlahan, Saravi memutar tubuhnya. Pandanganya beralih kearah Abdi. Dia berani melihat Abdi setelah memastikan pria itu terpejam lewat pantulan samar dari kaca.
Matanya memindai tiap inci wajah dan tubuh pria itu. Gurat kelelahan tampak jelas tergambar disana.
Saravi sering bertanya, bagaimana bisa pria itu bertahan hidup sendirian selama ini. Tekad seperti apa yang dia punya. Walaupun mereka sudah beberapa bulan, tinggal bersama, tetapi Saravi tidak tahu asal-usul pria itu.
Abdi tidak pernah membahas soal itu, dan sepertinya hal itu ingin dia kubur disisi terdalam, terjauh dan tergelap dari hati dan pikiranya.
Siapa kau sebenarnya.
***
Hari itu sudah gelap. Walaupun belum larut. Matahari baru saja tenggelam beberapa jam yang lalu. gerimis juga telah berhenti beberapa menit yang lalu. Aroma basah akibat siraman hujan memenuhi seluruh rongga penciuman.
Saravi tampak berjalan keluar dari lobby asrama sekolahnya. Keadaan setelah turun hujan sepertinya akan merubah suasana hati siapa saja, menjadi lebih baik.
Kecuali sosok yang berjalan disampingnya, Abdi. Sepertinya awan mendung masih tertinggal disana. Berbeda dengan Saravi yang sudah cerah.
Wajahnya masam, langkahnya asal, yang penting maju kedepan. Matanya menggantung, tampak bulir kelelahan tertinggal disudut mata, sesekali dia menguap.
Suasana hatinya tambah buruk setelah Saravi membekap hidung dan mulutnya untuk membangunkan dirinya saat terlelap.
bahkan, sejauh yang Abdi tahu, sepertinya Saravi tidak ada keinginan untuk melepasnya. Tidak sebelum Abdi meronta dengan liar akibat kehabisan napas.
Saat ini, mereka berdua, sedang berjalan keluar kompleks sekolah untuk pulang, taxi daring mereka sudah menunggu. Karena untuk alasan keamanan, walaupun hujan telah reda, mereka sepakat inilah yang terbaik.
Sepanjang jalan keluar itu, temaram lampu memancar lembut menjadikanya sumber penerangan sekolah itu di waktu malam.
Malam hari di sekolah bukan berarti tidak ada orang lalu lalang disana.
Entah sengaja atau tidak, nuansa kompleks sekolah itu di malam hari, sangat cocok bagi pasangan untuk memadu kasih.
Begitu juga dengan Saravi. Jemari tangan kanan gadis itu menjalin erat jemari tangan Abdi sebelah kiri, dan tidak ada yang salah dengan itu.
Yang janggal adalah, bahwa Abdi tidak benar-benar tepat di samping Saravi. Posisinya agak di belakang, dan terlihat seolah Saravi menarik paksa lengan Abdi.
Bagi yang melihat, Saravi terlihat seperti penggembala yang mati-matian menarik tali kekang dombanya yang lagi mogok jalan karena akan disembelih.
Sedangkan bagi Abdi, dia terlihat seperti seseorang yang sedang ditarik oleh anjingnya yang sedang antusias mengendus sesuatu sambil terus berjalan tak peduli.
Untuk beberapa saat mereka berjalan beriringan aneh seperti itu. Hingga langkah yang kesekian, Saravi mulai merasakan sedikit kegelisahan perlahan menggerayapi kesiagaanya. Tadi, sebenarnya dia tidak memperhatikan hal itu dengan serius.
Namun, bukanya menghilang, perasaan aneh tersebut justru semakin menguat. Kewaspadaan Saravi bertambah. Alisnya saling bertaut. Matanya menyipit.
Air muka gadis itu bertambah tegang. Pandanganya menyapu sekeliling. Tatapanya memindai keseluruhan kejadian yang bisa ditangkapnya, sekecil apapun itu.
Tanpa sadar, Saravi terlihat memperlambat langkah. Genggaman tanganya mulai mengerat. Sedangkan tangan yang satu lagi mulai mengepal.
"Kenapa?" Abdi bertanya kepada Saravi. Sepertinya pria itu dapat merasakan keanehan pada diri gadis itu.
Saravi hanya terdiam. Gadis itu melihat Abdi lewat sudut lancip dipinggir matanya.
Abdi juga gelisah, terlihat dari gerak-geriknya yang tak tenang juga. Jika sudah seperti ini jawaban lisan sudah tidak diperlukan lagi.
Terlebih lagi, Saravi tahu apabila Abdi sangat peka bila menyangkut urusan rasa-merasakan yang pria itu sebut sebagai tekanan emosi, atau apalah itu. Seperti merasakanya sebelum konvoi berandalan bermotor sialan itu mengeroyok.
"Tunggu sebentar." Seketika Abdi menarik pelan jalinan jemarinya dengan Saravi. Dia berhenti.
Merasakan tertahan Saravi pun ikut berhenti. Dengan jemari masih tertaut, Saravi memutar badanya dan berdiri tepat di depan Abdi. Wajahnya menengadah guna melihat wajah Abdi.
"Ada apa?"
"Telingaku berdenging." Jawab Abdi. Tampak wajah yang selama ini Saravi puja terlihat gelisah. "I..ini, ini rasanya persis seperti waktu aku akan terlempar ke alam jeda waktu itu."
"Benarkah?" Wajah serius sejak tadi Saravi, meminta konfirmasi.
Abdi mengangguk.
Saravi semakin resah. Jawaban tanpa kata itu sukses membuat gadis itu terdiam. Sepertinya, gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
Kembali, Saravi menatap Abdi lekat-lekat, setelah berdebat kecil dalam hatinya.
"Kita masuk alam jeda." Kata Saravi mantap. Tapi itu hanya sesaat. Detik berikutnya, dia mengalihkan pandangan. Gadis itu tidak lagi menatap Abdi.
"Kau tahu, bukan. Caranya masuk kesana?" Ujar Saravi lirih sembari tertunduk.
"Ya."
Uh, jawaban yang singkat. Jawaban singkat yang mampu membuat Saravi, demi Tuhan. Oh, astaga, lupa bagaimana caranya bernapas dengan baik sekaligus benar. Sempat gadis itu mengulum bibirnya sendiri.
Celakanya, ada satu organ didadanya yang berkhianat, jantungnya. Ya, sekarang, jantung itu melonjak-lonjak penuh suka cita. Perlahan Saravi merasa wajahnya memanas, berani sumpah, rona merah pasti sudah terbit disana. Berharap saja, rambut ikal sebahu itu mampu menjadi tempat persembunyian bagi wajahnya.
Ameen!
Sedetik kemudian, Saravi tersadar apabila harapanya pupus. Pasalnya, sebuah tangan yang sangat familier menjulur kearahnya. Tangan kanan Abdi kemudian mengusap lembut pipi kiri gadis itu.
Merasakan sentuhan yang sangat adiktif itu, Saravi semakin tidak berani menengadahkan wajahnya. Sementara itu jemari kiri Abdi masih terjalin di tangan kananya, tangan kanan pria itu kini menelusuri garis rahangnya dan baru berhenti tepat didagu gadis itu.
Perlahan dan penuh kelembutan, Abdi menuntun Saravi untuk berhenti bersembunyi dan menatapnya. Saravi ingin menolak namun urung.
Entah dapat keberanian darimana, gadis itu menatap Abdi. Senyum manis Abdi terpasang disana. Perlahan wajah dan senyum itu mendekat. Semakin lama semakin Saravi bisa merasakan hembusan napas yang hangat itu menerpa wajahnya.
Saravi terpejam saat sesuatu menyentuhnya. Bibir Abdi yang maskulin, kenyal, dan bertextur itu menyentuh bibir Saravi yang feminim, lembut, dan manis. Semula itu hanya sentuhan lembut. Lalu sentuhan itu berubah menjadi usapan panas. Tidak butuh waktu lama usapan itu menjadi pagutan yang menuntut.
Saravi ingin berhenti namun urung. Cimunan itu telah meretas seluruh akal sehatnya. Alhasil, gadis itu mengikuti arus atau malah membuat arus itu makin menggila, persetan dengan rongga hidungnya yang mulai bernapas acak.
Abdi menyelipkan jemarinya ke rambut Saravi, mengarah ke tengkuk dan menekan tengkuk Saravi untuk memperdalam ciuman. Sedangkan Saravi mulai mengaitkan lenganya ke punggung Abdi. Seolah tak rela jika sentuhan itu cepat diakhiri.
Mereka saling menghisap, saling mengulum, saling memberi sentuhan yang bisa mereka tawarkan, seolah bibir mereka ada hanya untuk ini.
Sementara itu, disaat mereka berdua terhanyut dalam arus yang mereka buat, keadaan sekeliling mulai sedikit ganjil. Tidak ada yang salah dengan keindahan suasana temaram atau kesegaran udara dan aroma khas tanah yang basah. Tidak, semua itu masih ada disana. Keganjilan itu semakin saat perlahan nuansa yang terlihat mulai terasa khas alam jeda.
Beberapa orang mulai tampak diam, membeku seperti manekin. Pandangan, mimik wajah, dan gerakan mereka terkunci. Beberapa orang terlihat seperti sedang tenggelam dalam sebuah percakapan, beberapa lagi terlihat seperti menertawakan sesuatu, bahkan ada yang seperti terpingkal-pingkal terlihat dari caranya memegang perut, bahkan ada beberapa orang sedang akan berciuman, coba saja lihat bagaimana ekspresi beberapa gadis yang sedang terpejam, atau ekspresi beberapa pria yang mulai nakal.
Beberapa serangga terbang terlihat melayang. Juga senandung indah beberapa binatang malam pun, mulai tidak terdengar. Semua digantikan kesenyapan yang dalam dan suasana yang mencekam. Sepertinya Abdi dan Saravi telah masuk sempurna ke alam jeda.
*JleggurR!!
Tiba-tiba, terdengar suara yang memekakan telinga berasal dari tempat tidak jauh dari tempat Abdi berdiri. Sepertinya sesuatu yang besar dan berat sedang menghantam permukaan bumi. Lihat saja gelombang kejut yang dihasilkan, getaranya mirip gempa kecil.
Di pusat benturan, dimana getaran itu tercipta, tampaklah siluet sebuah sosok. Sosok itu berwarna hijau.
Sosok itu merunduk dengan menekuk sebelah lututnya. Kepalanya masih menunduk. Wujud sebenarnya masih misterius.
Perlahan sosok itu menegakan tubuhnya. Sepertinya tadi mahluk ini sampai disini dengan melompat, atau semacamnya.
Kini, setelah tegak barulah sosok tersebut terlihat sepenuhnya.
"Lok-Tar!!!" Mahluk itu menggeram.
Tidak jauh dari mahluk itu berdiri, Abdi dan Saravi masih diposisinya dan masih beraktifitas seperti sebelumnya, saling berciuman. Tidak peduli keadaan sekitar.
Setelah lama ciuman itu bertaut, mereka saling melepaskan diri. Saravi menata napasnya kembali, karena sejak tadi sepertinya dia sudah lupa caranya bernapas dengan benar.
Abdi menatap dengan lembut, sedangkan Saravi mengalihkan pandangannya karena malu. Satu kecupan singkat mendarat. Saravi tersenyum bahagia.
Tiba-tiba, Saravi memejamkan mata. Wajahnya menengadah. Sebuah pendar cahaya mirip benang, tersambung dari bawah pusar Abdi mengarah ke tengkuk Saravi. Gadis itu melayang di udara dengan perlahan. Makin lama makin ke atas. Gerakanya mirip gelembung udara di dalam laut yang sedang naik kepermukaan.
Saat ini, Saravi terlihat bermandikan cahaya. Cahaya yang makin lama makin terang. Intensitasnya makin menguat, hingga membuat Abdi kesulitan melihat.
Di lihat dari pola kejutnya, sepertinya itu tadi adalah ledakan cahaya. setelah pupilnya kembali normal, barulah sosok Saravi yang melayang mulai terlihat jelas.
Abdi terperanjat, Saravi pun tidak bisa berkata-kata, terkesima atas penampilanya saat ini. Di perhatikanya tubuh itu lekat-lekat. Ini terlihat lebih baik daripada di bawah jembatan waktu itu.
Pendar cahaya lembut masih menguar dari tubuhnya. Dipunggungnya, sepasang api berwarna vermillion keluar. Api vermillion, bertekanan tinggi, serupa sepasang sayap meliuk dengan anggun. Kini terlihat lebih cemerlang dari sebelumnya.
Tangan Saravi terbalut sarung tangan hingga siku. Sarung tangan tanpa jari. Bagian jari itu meruncing dan terselip di jari tengah, dengan warna seputih awan dengan warna vermillion dibagian tepi.
Gadis itu memakai tank top dengan punggung terbuka, dengan warna dominan vermillion. Bagian dadanya terlindung oleh zirah yang entah bagaimana justru membuat dua bukit kenyal itu terlihat lebih menantang. Belahanya juga terlihat jelas. Warna zirah putih platinum dengan ornamen berwarna ungu pastel terlihat sangat elegan.
Dibawah, terlihat balutan rok mikro dengan lingkar pinggang di bawah semestinya tergantung disana. Rok itu jenis lipit, ada lipitan di sebelah kiri dan kanan. Warna dominanya seputih susu, dengan warna ungu pastel dibawah lipatan lipitnya.
Ada dua hal yang menyembul malu-malu disana. Yang pertama adalah belahan pantatnya di bagian belakang.
Yang kedua adalah, panty vermilion yang kadang gagal bersembunyi di balik rok. Sedangkan, perutnya yang langsing, punggungnya yang indah, dan kakinya yang jenjang dibiarkan terbuka dan terekspos begitu saja.
Sedangkan sepatu boots menemani kakinya. Boots itu memiliki heels setinggi 10cm, ujungnya lancip, berwarna putih. Boots itu tertutup hingga di atas mata kaki.
Perubahan tidak hanya Saravi rasakan dalam penampilan saja, ada hal lain yang berubah, dan itu yang paling penting. Di dalam dirinya, Saravi merasakan sesuatu yang melimpah dan meluap, siap dilepaskan.
"Bagaimana, kau suka?"
Belum sirna Saravi dan rasa takjubnya, kini dia dikejutkan akan hal yang lain. Sebuah suara terngiang di dalam kepalanya. Tidak mungkin, bagaimana bisa. Telepati, Abdi berbicara lewat telepati. Padahal itu baru saja dipelajari oleh Abdi pagi tadi, dan espher ini?
"Kumohon bicaralah, apa benar ini yang kamu mau?" Abdi merasa resah.
Saravi mulai ke kesadaranya. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk terkejut dan takjub terlalu lama.
Perlahan, Saravi melayang turun menghampiri Abdi, sayapnya tergulung.
"Yah, ini bagus." Saravi tersenyum ke arah abdi. Kali ini tidak dengan telepati. Dia berujar sembari mengusap lembut lengan Abdi.
Senyum kelegaan terpasang di bibir pria itu. Dia lega kalau usahanya tidak sia-sia. Terima kasih atas penyiksaan dari Saravi dengan puasa 40 hari sialan itu.. Terlebih lagi katanya, puasa dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas espher. Lega rasanya kalau yang Abdi lakukan sesuai harapan gadis itu.
Teringat sesuatu, Abdi bertanya kepada Saravi.
"Kau tahu ini apa?" Abdi lalu mengepalkan kedua tanganya. Sejenak pria tersebut terlihat sedang memusatkan pikiran.
Tiba-tiba, seberkas cahaya mencuat dari kedua tanganya. Terlihat Abdi seperti sedang memegang seberkas cahaya. Panjang cahaya itu berkisar kira-kira, 30cm.
Lagi, Saravi terperanjat. Sepertinya mulai saat ini dirinya harus terbiasa dengan kejutan-kejutan seperti ini bila pergi ke alam jeda dengan Abdi.
Bukanya menjawab, Saravi justru tertawa, kepalanya menggeleng seperti tidak percaya atas semua yang dilihatnya.
"Itu itu, bagaimana bisa, kau punya cemeti." Saravi masih tidak percaya.
"Itu cemeti espher, apabila benda itu kamu hantamkan ke tubuh angel, maka akan memberikan tambahan kekuatan terhadap angel." Saravi memperhatikan kedua cemeti itu.
"Normalnya, sejauh yang aku tahu, seorang Among hanya bisa mengeluarkan sebuah cemeti saja, itupun di dapat jika espher among tersebut sudah cukup matang." ujar gadis itu.
"Sedangkan dalam kasusmu, cemeti itu ada di kedua tanganmu, dan itu terlihat lebih berkilau. Aku ragu kalau tidak ada kegunaan lain dengan dua benda itu. Belum lagi limpahan espher yang aku rasakan, ini benar-benar kejadian langka." Saravi masih merasa tidak percaya.
Abdi mengangguk, dirinya tidak benar-benar paham penjelasan dari Saravi. Apa benar dirinya sehebat itu, dan apa itu tadi, ini kejadian langka katanya, gadis itu pasti bercanda.
"Jadi, selanjutnya, apa yang sebaiknya kita lakukan." Abdi mulai mengembalikan fokus. Walaupun masih banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, namun sebaiknya itu dia tanyakan nanti. Saravi berhutang banyak penjelasan untuk itu.
Seakan tersadar dari lamunan, Saravi kemudian mengambil posisi bersiap. Pandangan mereka kemudian tertuju ke arah mahluk hijau itu.
"Eh, bukanya itu mahluk hijau yang waktu itu?" Abdi mengenalinya lewat tangan kirinya yang buntung hasil diledakan Saravi.
"Tapi ini perasaanku sendiri atau bukan, mahluk itu terlihat lebih kecil dari sebelumnya.
Saravi terlihat tidak senang. Apapun yang terjadi dengan mahluk hijau itu, telah membuatnya tidak senang.
" kita tunggu dulu disini. Kita akan bergerak kalau dia berulah. Untuk sementara ini kita amati saja pergerakanya. Semoga saja firasatku salah." Saravi menyorot tajam ke arah mahluk itu.
***
Setelah merasakan kebengisan Saravi, bab ini saya menampilkan kesexyan angel kita ini. Tapi hubungan murid dan guru wanita juga cukup menantang. Iya nggak, sih.
Mohon sudi kiranya membubuhi vote dan komentar. Terus terang saja aku butuh umpan balik.
Bab ini dipersembahkan kepada @Im_inlove09 dan 
Matur sembah nuwun.

Komentar