8. Date

Ruangan itu tidak terlalu luas. Berada di belakang perpustakaan besar. Tempatnya yang tersembunyi membuatnya sepi pengunjung.
Belum lagi koleksi bukunya yang merupakan buku klasik menjadikanya sempurna menjadi tempat yang terlupakan.
Itulah gambaran kecil mengenai perpustakaan tersembunyi. Sebuah perpustakaan yang gelap kecil dan angker. Bagi sebagian orang, mungkin. Tapi tidak bagi mereka berdua. Bagi mereka tempat ini adalah tempat kesukaan mereka. Mungkin benar mencari informasi di internet jauh lebih cepat. Namun banyak bias dan fitnah disana.
Saat ini mereka berdua sedang berdiskusi hangat.
"Lalu, bagaimana dengan puasa?"
Tampak seorang gadis sedang berpikir, itu Tasya. "Ehm, bagaimana ya. Ini cukup unik, bukankah itu merupakan kegiatan tentang pengendalian diri. Mudahnya, bagi pemula penahanan diri masih berupa menahan lapar, dan haus. Jelas Abdi?"
Abdi mengangguk.
Tasya mengangguk balik. "Penahanan diri tingkat menengah adalah menahan, ehem...sex.: Tasya mengucapkan kata sex dengan wajah memanas dan menutup mulutnya dengan tangan.
Abdi cuma menggeleng. "Ok, lanjut." seolah tidak ada masalah dengan sikap Tasya.
"Baiklah, penahanan tingkat lanjut adalah pengendalian emosi. Oh, ini bagian yang aku suka. Coba saja kalau para pihak yang berebut pengaruh tiga agama itu tahu tentang makna puasa, tentunya mereka tidak akan berebut. Tapi sebenarnya mereka tahu itu. Namun ambisi dan keserakahan mereka akan apapun yang membuat keadaan makin memburuk tiap hari. Jelas, Abdi?"
Abdi mengangguk. "Berarti puasa itu tentang niatnya, tentang pengendalian diri, atau masih ada yang lain?"
Ini dia yang Tasya suka. Diskusi dengan Abdi membuat Tasya bergairah. Ok wajahku, jangan memanas, kumohon. "Sederhananya begitu. Niat dan pengendalian diri berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Namun sepertinya puasa juga berfungsi sebagai regenerasi sel dan juga bisa berfungsi menjadi detoxifikasi."
Abdi mengangguk. "Jadi masih ada hubungan dengan prana ya." Abdi bergumam sendiri.
"Secara tidak langsung sih, iya. Memangnya ada apa sih, cari info seaneh ini?"
"Itu R-A-H-A-S-I-A. Jadi ya, rahasia. abdi menyeringai usil. Dan dia benar-benar tidak ingin bercerita. Mencari keterangan antara puasa dan espher saja sudah dibilang aneh, apalagi, kalau gadis itu tahu tentang angel dan among. Gadis itu bakal bilang apa.
Tasya mengerang kesal. "Kau curang."
"Terserah saja." Abdi mencoba tidak peduli.
Ternyata pilihan untuk tidak peduli adalah pilihan yang salah. Sangat-sangat salah. Karena reaksi lanjutanya adalah, Tasya mengerutkan dahi, menautkan alis, mengerucutkan bibir, dan menggembungkan pipi. Sepertinya wajah itu terkumpul disatu tempat.
Abdi terkesiap. Tasya yang merajuk lebih bencana dari gempa haiti yang meluluh lantahkan negara itu.
Tasya melipat tanganya dan berpaling dari Abdi.
"Eh, hei, ayolah, jangan marah." Abdi berusaha agar Tasya mau berhenti merajuk.
"Siapa juga yang marah." Diucapkan dengan nada ketus, berpaling dari lawan bicara dan dia bilang tidak marah. Rasanya ingin mencubit pipi Tasya yang menggembung itu. Gemas saja rasanya, tapi itu tentu saja hanya ada di angan-angan. Bagaimanapun juga, Tasya adalah wali kelasnya. Paling tidak dengan penampilan seperti ini.
*kriuuuk.
Suara perut. Suara perut lapar. Perut siapa itu. Sejenak suasana menjadi hening. Tidak ada yang ingin memulai bicara. Mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"I..itu suara pe..rutku..." Suara itu sangat pelan, lebih pelan dari berbisik. Nyaris tak terdengar.
Tasya masih di posisi semula, memunggungi Abdi. Dia tidak ingin berbalik. Gadis itu sadar kalau saat ini wajahnya pasti lebih merah dari kepiting rebus. Dia memaki perut sialanya yang tidak mau diajak kerjasama, padahal dia sekarang berada dalam mode merajuk. Sial, benar-benar sial.
"Belum makan siang, ya?"
"Sudah tahu, pakai bertanya juga."
Ups kucing manis ini belum melunak. Cakarnya masih keluar.
"Memangnya ogre itu mengamuk lagi."
Tasya mengangguk. "Kamu harus lihat wajah horor Saravi waktu dia tahu porsi makan Tiara."
"Astaga, Saravi disana juga."
Tasya mengiyakan lewat anggukan. Setelahnya pecahlah tawa mereka berdua. Tasya memegang perut sementara Abdi sudah sampai jongkok di lantai.
"Sudahlah, aku mau makan dulu." Tasya menghentikan tawanya paksa. Dia menyeka air matanya akibat tertawa. Kali ini gadis itu menghadap Abdi.
"Mau makan di kedai Pak Agus?" Abdi berhenti tertawa dengan susah payah. Dia belum berdiri, masih jongkok di lantai.
Oh, oh, apa ini, sebuah kencan? "Ah, berani juga kau rupanya mengajak kencan guru wali kelasmu. Besar juga nyalimu."
Abdi mengacak-acak rambutnya. Sebenarnya itu ajakan biasa, bukan kencan.
Tasya bangkit berdiri. "Aku mandi dulu. Kita ke asrama baru berangkat."
Tasya melangkah pergi. Abdi pun segera bangkit dan menyusul Tasya.
Asrama itu berada diatas sekolah Abdi. Sepanjang jalan itu Abdi berusaha menjaga jarak dari Tasya. Sebaliknya, gadis itu benar-benar sulit diajak kerjasama, padahal dia masih memakai seragam pengajar.
"Kita sudah sampai." Tasya membuka pintu kamarnya. Dia terlihat riang kali ini.
"Masuklah, duduk dimana saja kau suka. Aku akan bersiap. Kau tunggu disini dan jangan nakal." 
Abdi mengkonfirmasi dengan anggukan. Tasya pun berjalan memasuki ruangan lain dan menutupnya.
Abdi terkesima melihat sesuatu yang disebut Tasya sebagai asrama. Ini lebih tepat disebut condotel. Ruanganya sangat mewah. Baik di ruang lobby, lift yang berdinding kaca dan berbentuk silinder, dan sekarang kamar Tasya yang mewah.
Ruangan ini cukup luas. Itu adalah ruangan tempat Abdi berdiri. Ada perabot mewah di sana sini. Televisi, lemari es, ada di dekat sofa panjang. Ada dapur kecil diujung ruangan. Dan ada satu ruangan yang Tasya tutup tadi. Sepertinya kamar tidur dan kamar mandi ada di sana juga.
Abdi masih menunggu Tasya. Sampai kamar itu terbuka. Tasya keluar dari kamarnya dan, oh, Tuhan. Apa ini, benarkah ini adalah Tasya yang tadi. Dia berdandan casual. Bagian samping rambutnya dijalin dan ditarik kebelakang. Ada penjepit rambut disana. Dan ada aroma jasmine malu-malu menyeruak.
"Hei, jangan bengong saja. Ayo berangkat."
Abdi mengangguk setelah melihat malaikat di depanya. Itu sebelum Tasya menyadarkanya kembali ke dunia nyata.
***
Abdi berjalan beriringan bersama Tasya. Tidak, bukan. Beriringan bukanlah kata yang tepat. Tasya mengamit lengan Abdi. Sejak keluar asrama hingga disini. Seolah lengan itu dan pemiliknya adalah benda berharga yang tidak boleh hilang. Sebenarnya Abdi sempat protes ke Tasya. Namun gadis itu mengkonfirmasi lewat wajahnya bahwa, ini kencan bukan, jadi wajar kalo seperti ini.
Di hadapan Abdi kini adalah kedai milik Pak Agus. Mereka sudah sampai. Abdi membuka pintu kedai yang terkunci dari luar.
"Masih tutup?"
"Akhir pekan kedai ini tutup."
"Memangnya tidak apa-apa?" Tasya melihat sekeliling. Gadis itu gelisah.
Abdi berhasil membuka pintunya. "Tidak apa-apa. Masuklah!" Abdi mencoba menenangkan Tasya dan mempersilakan masuk.
Bersamaan dengan Abdi, Tasya melangkah memasuki kedai.
Sepi, tentu saja. Bukanya tempat ini tutup. Deretan meja dengan kursi terbalik diatasnya juga berkata demikian.
Setelah itu Abdi berjalan ke arah meja paling dalam dan menurunkan semua kursinya. Tasya pun berjalan ke arah Abdi sembari pandanganya berkelana dan memindai tiap detil ruangan itu. 
Terlihat Abdi memundurkan sebuah kursi. Setelahnya Abdi mempersilakan Tasya untuk duduk. Sembari tersenyum Tasya menerima keramahan Abdi. Pantat sintalnya terparkir mulus di atas kursi itu.
"Terima kasih." setelah Tasya duduk dan menyungging senyum.
"Maaf, karena kedai tutup jadi aku tidak tahu menu apa saja yang tersedia. Aku ke dapur dulu, tunggu disini dulu, ya."
tasya mengangguk tanda setuju.
*drap drap drap.
Suara langkah kaki. Bukan, itu bukan suara langkah kaki. Itu suara lari. Ada seseorang berlari ke arah mereka. Suara lari di dalam kedai. Yang benar saja.
Abdi mengerutkan dahi. Sepertinya dia tidak suka. Benar, Abdi tidak menyukai apapun itu yang berlari di kedai.
Dengan langkah cepat Abdi meninggalkan Tasya dan mendekati arah suara itu.
Kemudian munculah seorang gadis sedang berlari. Berlari kearah Abdi.
Awalnya tidak terjadi apa-apa. Hingga...
"Aaah."
Suara seseorang berteriak tertahan, gadis itu memekik setelah kakinya tersandung sesuatu. Keseimbanganya hilang. Dia terjatuh.
Tidak ada suara orang terjatuh. Tasya yang melihat kejadian ini terkesiap.
Abdi ada disana. Gadis itu berada dalam dekapan Abdi. Tepat disaat gadis itu terjatuh, Abdi menangkapnya.
Abdi menatap gusar. "Savitri, sudah kubilang berkali-kali. Jangan berlarian didalam ruangan. Berbahaya, tahu!"
Savitri segera berdiri. Dia menunduk berkali-kali tanda merasa bersalah. Wajahnya merona. "Eh, um, maaf, aku.. minta.. maaf."
Suaranya lirih. Dia berbisik. Bisikanya terlalu lirih.
"Ok, ok." Abdi seakan teringat sesuatu. "Savitri, aku kenalkan kamu dengan seseorang."
Savitri tidak menjawab. Gadis itu ragu.
Abdi tidak menunggu jawaban. Tangan gadis itu diraihnya. Savitri berjalan dibelakang Abdi. Satu tanganya yang bebas menutup bibirnya dan menunduk.
Abdi mendekati Tasya. Setelah cukup dekat, Abdi menyodorkan tangan Savitri.
"Tasya, perkenalkan. Dia Savitri. Chef disini, dan anak Pak Agus pemilik kedai ini." Tasya menyambut tangan Savitri. Gadis itu menyebutkan namanya. Savitri menyebutkan namanya juga.
Abdi menghadap Savitri. "Dia Tasya guru, wali kelasku."
Savitri terperanjat mendengar perkataan Abdi. Dengan tangan masih menjabat Tasya, gadis itu melihat Abdi horor. Wajahnya mengkonfirmasi bahwa, ternyata Abdi menyukai wanita matang, aku tidak mengira. Atau semacamnya.
"Eh, hei. Ini tidak seperti yang kau kira." Abdi memberi penjelasan. "Dia sebaya dengan kita, kok. Itu karena dia ikut program akselerasi."
Tasya terbengong. Gadis itu tidak mengerti arah pembicaraan itu. Sedangkan Savitri tersenyum manis mendengar kalimat Abdi.
Abdi teringat suatu hal. "Savitri, apa ada makanan porsi dua orang? Aku dan Tasya mau makan disini."
Savitri berpikir sejenak. Hingga beberapa lama, dia mengangguk. "Ada, Chiken.. Rice!"
Abdi menoleh ke arah Tasya. Meminta persetujuanya.
Tasya mengangguk. "Apa saja."
Savitri mengangguk. Gadis itu berjalan meninggalkan Abdi dan Tasya. Sepertinya dia akan mempersiapkan menu yang dipesan.
Abdi mendekat kearah Tasya. "Aku bantu Savitri dulu. Disini sendirian tidak apa-apa, kan?"
Tasya mengangguk. "Aku tidak apa-apa."
Mendengar jawaban Tasya, Abdi pun melangkah berjalan menyusul Savitri yang sudah tidak terlihat lagi.
Tasya memandangi kepergian Abdi. Tampak punggungnya semakin menjauh. Tasya terkadang merasakan lompatan jantungnya menjadi liar hanya karena mereka bertemu pandang atau karena Abdi memperhatikanya. Bukan, itu bukan perhatian yang besar, sebenarnya itu hanyalah perhatian kecil. Saking kecilnya, nyaris tidak ada yang mengetahuinya dan wanita butuh itu. Wanita tidak ingin dikagumi karena penampilanya saja. Justru, mereka sangat ingin diperhatikan lewat penerimaan atas kekurangan dan kerapuhanya, dan Abdi berhasil menyentuh zona itu dengan baik. Pria itu selalu bersikap manis. Tapi kepada siapa, apa dia bersikap manis kepada semua gadis, atau hanya kepada Tasya saja. Atau benar kata Saravi, bahwa Tiara favoritnya. Tapi ah, tidak juga. Sepertinya Abdi tahu kalau Savitri bakal jatuh waktu berlari, tadi. Jadi bagaimana? Yang mana? Dengan siapa?
Tasya kembali berkutat dengan segala prasangkanya. Perlahan wajahnya memanas, asap tampak menguar dari kepalanya. Dia tampak seperti komputer yang sudah kelebihan beban dan akan meledak. Segera gadis itu menggeleng kepala cepat-cepat. Wajahnya menunduk.
"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"
Tasya memekik kaget. Dia memegang dadanya. Berharap jantungnya masih ditempatnya. Namun belum sempat berdetak normal, jantungnya memompa liar lagi. Wajahnya merona total. Pasalnya pria itu didepanya. Benar, wajah Abdi hanya berjarak tak lebih dari sepuluh inci dari wajahnya. Atau mungkin kurang, entahlah. Satu yang pasti, sepertinya Tasya akan sering menerima serangan jantung mendadak mulai hari ini.
"Eh, um, aku.. baik-baik saja."
Abdi menatap Tasya dalam-dalam, memindai setiap inci wajah gadis itu. Tasya menciut.
"Baiklah." Abdi menjauhkan wajahnya. Yang Tasya heran, sejak kapan pria itu datang. Tampak pria itu membawa nampan yang terisi penuh. Ada tiga gelas dan dua piring disana. Tidak perlu dilihat lagi, piring itu pastilah berisi chiken rice yang disepakati tadi. Sedangkan gelas itu. Ah, entah apa yang ada didalamnya. Satu yang pasti, kalau itu adalah minuman.
Tampak Savitri menghampiri meja mereka. Abdi memundurkan sebuah kursi lagi dan mempersilakan Savitri duduk. Pantat sintal lain terparkir sudah.
Tiga orang dalam satu meja. Mereka menyantap dan menyesap sajian yang ada.
Tasya menatap Savitri. "Oh, iya. Savitri, kamu sendirian?"
Savitri mengangguk. "Papa.. sedang.. pergi.. belanja."
Beli bahan masakan, ya." Tasya menambahkan.
Savitri mengangguk. Tasya sedikit mengerti kalau gadis itu tidak banyak bicara. Savitri juga sering terlihat menunduk dan menutup mulutnya. Ah, sepertinya gadis ini pemalu. Benar juga, pemalu yang murah senyum.
Abdi sepertinya teringat sesuatu. "Hei Savitri, apa Pak Agus belanja buat persiapan syuting?"
Savitri mengangguk.
Tasya membelalakan mata. "Woaah, benarkah, acara TV ya? Siapa? Jangan bilang acaranya Pak Bandung Bondowoso."
Savitri mengangguk.
Abdi mengangguk. "Syutingnya empat hari dari sekarang. Menurut pihak stasiun TV, siaranya langsung. Selain acara icip-icip, tampaknya juga akan ada demo masak juga. Termasuk bintang tamu juga ada."
Mata Tasya berbinar antusias. "Waah, pasti seru ya." Tasya mengalihkan pandang ke arah Savitri. "Um, waktu demo nanti, apakah Savitri yang memasak? Terus terang saja masakanmu enak. Termasuk chiken rice ini."
"Terima.. kasih..." Savitri tersenyum manis. "Tasya.. mau.. datang.., bukan?"
Saat itu binar antusias Tasya memudar. Binar mata itu pudar, digantikan pandangan mendung, kelabu dan berkabut. "Entahlah, aku tidak yakin. Ah, empat hari lagi ya. Masalahnya, akan ada kegiatan di sekolah dan aku terlibat didalamnya."
"Ah." Savitri bergumam kecewa.
"Tapi, akan aku usahakan, ok." Tasya berusaha menyenangkan hati Savitri.
Savitri tersenyum dang mengangguk.
Abdi seakan teringat suatu hal. "Savitri, kita latihan dance-nya, tunggu Sora datang, ya. Kalau gitar saja kurang hidup. Kita butuh perkusi."
"Baik."
Selang tidak lama, pintu kedai terbuka dari luar.
Tampak sebuah siluet. Siluet itu bergerak. Dia bergerak masuk. Itu Sora. Sora melihat ke dalam kedai. Memindai tiap jengkalnya. Hingga pandangannya terkunci terhadap Abdi.
Seketika Sora membeku. Tubuhnya menegang. Serasa setiap sendi ditubuhnya tersengat listrik ribuan volt. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pandanganya bergeser kearah seseorang di sebelah Abdi, Tasya.
Lalu ke Abdi!
Ke Tasya!
Kembali ke Abdi!
Lalu ke Tasya!
Susah payah Sora mencerna pemandangan dihadapanya. Hingga dihembusan napas berikutnya Sora membuka mulutnya.
"Iya, orangnya ada disini, itu dia!"
Tidak ada seorangpun yang mengerti maksud Sora. Sepertinya dia bicara dengan orang lain. Abdi bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud memberitahu Sora tentang latihan dance Savitri yang akan mereka iringi.
Drap..drap...drap!
Seseorang menyeruak dari belakang Sora, sosok itu menabrak lengan Sora. Tanpa peduli, sosok itu menabrakan tubuhnya ke tubuh Abdi.
"Saravi..!!"
Abdi terkesiap. Pandanganya kini tertuju kearah Sora, meminta kejelasan.
"Kau tahu, dia tersesat. Aku menemukanya terduduk di tepi jalan tidak jauh dari sini. Hampir menangis, tuh. Untung aku lewat disitu. Lagian kenapa juga tidak kamu jemput, sih!" Sora berkata sembari menutup kembali pintu kedai.
Mendengar keterangan Sora, Tasya bangkit menghampiri Saravi yang sedang menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Abdi. Lalu, gadis itu membawa Saravi untuk duduk. Saravi menurut saja. Dia terus menunduk, dan wajahnya sedikit mendung. Savitri menyerahkan segelas air minum kearah Saravi, entah darimana air tersebut. Tasya dan Savitri berusaha menenangkan Saravi. Selang tidak terlalu lama, Saravi tampak stabil.
Sora dan jinbe-nya mendatangi Abdi. "Masih dengan rencana semula, atau ada rencana lain?"
Pandangan mereka beralih kearah Saravi.
"Lihat saja nanti." Abdi menjawab tanpa mengalihkan pandanganya dari Saravi. Gadis itu sudah jauh lebih tenang.
"Kita latihan lagu latin disini. Savitri sekalian mau menari latin. Kau mau?"
Sora mengangguk. "Sip lah!" Sora mengubah posisi jinbe-nya kearah depan. Membran alat itu dipukul-pukul ringan. Dia sedang mencari ketukan yang pas dengan musik latin.
Abdi mengambil gitarnya. Sesekali alat itu dipetik pelan untuk mencari nada, kadang mengikuti hentakan jinbe Sora.
Kini praktis perhatian ketiga gadis itu tertuju kearah Abdi dan Sora. Nada indah itu mulai mereka rasakan. Walaupun belum sempurna.
"Savitri, cepat ganti kostum. Kita latihan sekarang. Musiknya sudah siap, nih." Seraya Abdi tanpa melepas perhatianya dari permainan gitar.
Savitri menoleh kearah Saravi, setelah mendengar pernyataan Abdi. Sembari menggenggam tangan saravi, gadis itu minta persetujuan.
"Aku baik-baik saja, bersiaplah."
"Benar Savitri, biar dia bersamaku disini." Tasya mencoba meyakinkan.
Savitri melihat Tasya.
Lalu ke Saravi!
Lalu ke Tasya!
Kembali lagi ke Saravi!
Sebelum bangkit dan meninggalkan mereka untuk mengganti kostum.
Tidak ada yang memperhatikan kalau sejak tadi Saravi datang dengan hardcase flute miliknya. Sekarang, flute itu diraihnya.
"Aku ikutan." Tanpa meminta jawaban, Saravi sudah menempatkan jemarinya diatas tuts flute itu. Sebenarnya suasana hati Saravi belum tentu segera membaik kalau saja Abdi dan Sora memainkan musik latin. Iramanya yang enerjik sangat bisa menjadi mood booster. Tak lama kemudian Saravi mengikuti pusaran nada yang diciptakan oleh Abdi dan Sora.
Tasya terkesiap. Nada indah itu menyusup telinganya. Sekejap dia memejamkan mata, meresapinya. Sungguh, ini hebat.
"Aaahh."
Suara orang memekik. Segera pandangan mereka menuju sumber suara. Musik pun berhenti.
"Um..maaf." Suara Savitri lirih. Ternyata yang memekik tadi adalah dia. "Itu..bagus. Musiknya..bagus."
Perhatian mereka kini beralih, masih memperhatikan Savitri, namun, waaah, apa ini, coba lihat penampilanya.
Rambut ikal sepunggungnya, kini di ikat ekor kuda, walau, rambut depanya masih menutupi sebelah matanya. Dia terlihat berbeda dengan suit yang dia kenakan. Body fit suit itu melekat sempurna mempertegas keindahan tubuhnya. Suit lengan panjang dengan bagian depan memperlihatkan belahan buah dada, dimana keduanya semakin terlihat bulat menantang. Di bagian belakang, tampak punggungnya dibiarkan terbuka, sepenuhnya. Bagian bawah baju itu menyambung dengan bagian atas. Itu adalah rok mini yang menutupi beberapa inci dari pantat sintal Savitri. Kaki jenjangnya juga dibiarkan terbuka. Mempersilakan tiap pasang mata menikmatinya. Suit itu sepertinya terbuat dari bahan yang membuat pemakainya mudah bergerak. Mungkin dari satin, mungkin dari katun, atau dari kain goni. Entahlah, tapi semoga yang terakhir itu, bukan.
Dengan warna suit perpaduan antara biru cyan, jingga, dan high heel yang dikenakan membuat semua yang memandang Savitri akan masuk dalam mode semangat.
"Um, apa..bisa..dimulai..sekarang?" Savitri membuka suara saat dia jadi perhatian sehingga musik itu berhenti.
Abdi dan Sora yang sejak tadi tidak berkedip dan membuka mulutnya, tersadar kemudian. Tampak salah tingkah, keduanya segera memmpersiapkan alat musiknya.
Tasya dan Saravi hanya menggeleng melihat kelakuan kedua pria itu.
Sesaat hening sejenak. savitri mencari tempat yang cukup luas dan mempersiapkan diri. Sora mulai menghitung mundur. Dan saat hitungan ketiga, semuanya dimulai.
Dentuman jinbe!!
Dentingan gitar!!
Alunan flute!!
Hentakan kaki!!
Suasana mulai berubah. Atmosfer dipenuhi udara semangat.
Hentakan kaki!!
Ayunan tangan!!
Memutarkan badan!!
Saravi bergerak lincah mengikuti harmoni nada yang mengalun. Tiap gerakan mencerminkan luapan emosi dari sang penari.
Detik demi detik, menit demi menit. Terasa waktu tidak lagi berarti apa-apa. Para pengiring dan yang diiringi sudah sangat terhanyut. Pusaran ritme itu membuat setiap orang yang terlibat tidak ingin berhenti.
Tasya, yang sedari tadi hanya melihat pun mulai ikut arus yang mereka ciptakan. Sepertinya energi positif dari Saravi telah tersampaikan dengan baik. Jantungnya berdeguk penuh semangat. Badanya ikut bergoyang, sesekali tanganya ikut bertepuk.
Hingga mereka mulai berhenti. Napas yang tidak beraturan kini mulai di tata kembali.
Abdi menatap setiap orang yang ada disana.
"Ok, semuanya, saatnya performa di taman!!"
***
Semoga bagian ini berkenan. Semoga interaksi para tokohnya mengena.
Sudi kiranya melayangkan vote dan komen juga.
Matur sembah nuwun.

Komentar