7. Tasya
*Teeeeeet*
Itu bunyi bel. Sekarang sudah tengah hari. Gelombang radiasi panas sebesar 30 derajad atau lebih, sedang dimuntahkan oleh bintang terdekat yang konon katanya merupakan pusat orbit solar sistem. Dan ini adalah suatu tempat dibagian sistem tersebut yang memiliki bentuk kehidupan.
Kehidupan itu juga terdapat disini. Disuatu tempat dimana terdapat sekelompok bangunan kokoh berdiri menjulang. Seakan yakin tidak ada satu kekuatan pun yang dapat merobohkanya.
Di area bangunan itu kehidupan menggeliat. Tampak pria dan wanita menggunakan pakaian yang sama. Tidak semua, akan tetapi yang berbeda pun tetap memakai pakaian yang sama.
Memakai seragam. Itu merupakan pembeda diantara mereka. Pembeda antara guru dan murid. Tampak keramaian lalu lalang mewarnai area bangunan itu. Ini adalah saat dimana istirahat dan makan usai. Dan bunyi bel tadi adalah tanda masuk kelas.
Disuatu tempat di salah satu tempat disudut area salah satu bagian bangunan banyak para murid berkerumun. tidak semuanya murid. Para guru pun tampak ada disana. Menghabiskan waktu istirahat mereka.
Bangunan itu adalah bangunan kantin. Sebelumnya kantin ini sangat ramai, penuh sesak. Namun saat ini keramaian yang membuat antrian panjang pun telah susut. Memang masih menyisakan beberapa orang yang masih menikmati makananya. Sebagian lagi telah pergi meninggalkan kantin dan berjalan keluar dari tempat itu menuju suatu tempat,. Mungkin kelas mungkin juga tidak, entahlah.
Di salah satu meja di suatu sudut kantin, terlihat seseorang telah selesai dengan istirahatnya. Dia tengah membersihkan meja tersebut. Menempatkan bungkus kosong dan beberapa yang lain ke tempat yang semestinya, tempat sampah.
Segera setelahnya orang itu bangkit meninggalkan meja tersebut dan berjalan menuju pintu keluar kantin.
Jika diperhatikan dari seragamnya, orang ini adalah guru. Namun jika dilihat dari tampilanya, masihlah sangat muda. Mungkin dia sebaya dengan para murid yang ada disana dan jika benar, orang itu bisa jadi guru termuda di tempat itu.
Jika diperhatikan dari bagian bawah seragamnya yang memakai rok dan panjang rambut lurusnya yang mencapai pinggang, bisa ditarik kesimpulan bahwa orang itu adalah seorang wanita, atau bisa saja disebut sebagai gadis.
Saat gadis itu berada didepan pintu keluar kantin tersebut dia menghentikan langkahnya. Dia menoleh kekiri dan kekanan. Bukan, dia sepertinya tidak tersesat, walaupun dia tampak bimbang. Setelah berpikir sejenak nampak gadis itu telah mengambil keputusan. Dengan pasti dia melangkahkan kakinya.
Gadis itu menyusuri koridor dan lorong-lorong yang lebarnya seukuran empat orang dewasa menuju ke tujuan berikutnya.
Sebenarnya di sepanjang koridor dan lorong tadi, gadis itu banyak berpapasan dengan beberapa murid. Karena dirinya adalah seorang guru adalah wajar baginya jika para murid menaruh hormat padanya. Para murid tadi selalu menundukan kepalanya dengan sopan dan beberapa lagi menyapanya dengan hormat. Seperti, selamat siang Bu atau semacamnya.
Tentu saja gadis itu membalas salam tersebut. Dengan senyuman terbaik yang dia punya misalnya, atau membalas salam dengan mengucapkan kalimat seperti selamat siang atau semacamnya.
Sebenarnya gadis itu sangat terganggu dengan panggilan, Bu yang dia terima. Sebenarnya dia ingin meneriaki semua murid dengan berkata, hei, aku belum setua itu, kau tahu, atau semacamnya. Walaupun akhirnya kalimat itu tetap tidak terucap. Memang kenyataan ini tidak bisa berubah. Ada aturan tidak tertulis bahwa murid harus hormat kepada guru. Dan sampai sekarang pencetus ide itu tidak ada yang tahu.
Gadis itu masih berjalan menyusuri koridor. Hingga berada di ujung jalan. Itu jalan buntu. Tidak tidak, dia tidak menuju ke jalan buntu tersebut.
Beberapa meter sebelumnya terdapat sebuah pintu besar menjulang disebelah kiri koridor.
Segera, gadis itu memasuki pintu tersebut. Di dalam ruangan itu terdapat beberapa rak. Rak tersebut terdiri dari tiga tingkat. Ditiga tingkat itu tersusun rapi berbagai judul buku dengan berbagai tema. Dan semua rak buku tersebut, berjajar dibelakang meja resepsionis.
Di depan resepsionis terdapat beberapa meja dengan beberapa bangku untuk pengunjung.
Gadis itu berjalan melewati kumpulan meja pengunjung menuju langsung kearah deretan rak buku. Hingga bagian ujung dari deretan rak tersebut, sebuah pintu terlihat. Jika dilihat dari deretan meja didepan meja resepsionis, praktis pintu tersebut tidak terlihat. Terima kasih kepada deretan rak buku ini yang secara tidak langsung menyembunyikan pintu tersebut.
Gadis itu membuka pintu itu dan memasukinya. Kini, dia berada disebuah lorong kecil yang bahkan orang tidak bisa berpapasan karena lebar jalan itu hanya berukuran satu orang dewasa.
Hingga gadis tersebut sampai di ujung lorong. Ternyata ujung lorong itu tersambung di belakang meja resepsionis. Tidak, bukan, ini bukan meja resepsionis yang sama, ini meja yang berbeda. Bahkan ini bangunan yang berbeda. Bangunan yang beberapa kali lebih luas, dengan deretan rak buku dan meja pengunjung lebih banyak.
Didekat deretan rak buku tersebut terdapat sebuah ruangan. Gadis itu memasukinya. Ini adalah ruangan yang lebih gelap dari ruangan sebelumnya dan juga lebih kecil. Tidak banyak orang sepertinya yang berkunjung kemari. Kalau mau dibilang sih, ruangan ini agak horor. Tapi asal tahu saja, bagi kutu buku, ruangan ini sangat favorit.
Disebuah ujung ruangan itu terdapat beberapa rak buku yang tersusun berkeliling hingga menyerupai bilik darurat. Penerangan di dalam bilik tersebut cukup terang untuk membaca. Gadis itu melihat seseorang di dalam bilik itu. Dia segera bergegas. Tampaknya orang dalam bilik tersebut yang dia cari.
"Ternyata benar!" Gadis itu memandang nyalang orang didepanya. "Disini kau rupanya!!"
***
*Teeeeeet*
Terdengar bunyi bel. Ini adalah sebuah ruangan yang cukup luas. Tidak terlalu luas sih, namun cukup menampung empat puluhan murid. Benar ini adalah kelas.
"Baiklah, cukup sekian." Seorang pria yang berkata di depan kelas itu, yang terlihat seperti guru itu mengakhiri materi. "Silakan beristirahat."
Pria itu berjalan ke arah meja guru. Setelah di rasa cukup membereskan sesuatu yang diperlukan. Guru pria itu melangkah pergi meninggalkan kelas.
Setelah sepeninggal guru tersebut, sontak para murid yang kebanyakan pria, berhambur keluar. Kebanyakan para gadis masih cukup sibuk membereskan beberapa buku yang digunakan sebagai buku pengkayaan materi. Terkadang para gadis itu tidak paham, bagaimana bisa para pria itu membereskan secepat itu, atau sejak awal memang buku itu tidak pernah dikeluarkan, entahlah.
Dideretan kursi para murid, terlihat dua orang gadis telah usai membereskan buku mereka.
"Um, Saravi, apakah kamu mau ke kantin?" Gadis itu membuka percakapan dengan suara pelan. Tidak terlalu pelan hingga masih terdengar.
saravi mengangguk. "Sepertinya begitu, kenapa?" Gadis itu menoleh kearah sumber suara. "Tiara mau ikut?"
"Iya nih, aku lapar." Tiara mengusap-usap perutnya agar lebih dramatis.
Saravi tertawa geli. "Baiklah, ayo."
Kedua gadis tersebut mengangkat pantat sintal mereka dari kursi dan keluar kelas melalui pintu belakang.
Hingga dua pasang kaki mereka berhasil melewati pintu tersebut, tiba-tiba Tiara menghentikan langkahnya. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya dia baru saja teringat sesuatu yang hampir saja dia lupakan.
"Eh, tunggu disini sebentar." Setelah meminta Saravi menunggu, Tiara segera membalikan badan, masuk kembali ke kelas.
Sebenarnya tadi, Tiara meminta Saravi menunggu tanpa mengetahui kesediaan Saravi.
Saravi tidak berkata apapun. Tapi jika dilihat gadis itu pun juga berhenti, sepertinya dia setuju. Sebenarnya dalam benak gadis itu bertanya-tanya tentang apa yang menyebabkan Tiara masuk kelas kembali. Namun urung, dia memilih diam dan menunggu Tiara.
Sementara itu Tiara, gadis itu telah berada di dekat bangku yang dia duduki tadi. Tiara berjongkok disamping kursi tersebut.
Tanganya menjulur seakan mencari sesuatu dibawah kursi. Sebenarnya di bawah tempat duduk kursi tersebut terdapat tempat dimana seseorang dapat meletakan sesuatu didalamnya.
Tangan Tiara segera berhenti setelah dia merasa sesuatu yang dia cari telah ketemu. Setelah itu Tiara mengeluarkan benda tersebut dan meletakanya di bagian atas kursi tersebut yang berfungsi sebagai meja.
Bukan, itu bukan satu, itu bukan satu barang melainkan dua barang.
Salah satu barang itu menyerupai kotak penyimpanan berwarna gelap dengan ornamen berupa aneka bentuk lengkung yang disusun sedemikian rupa hingga menampilkan citra seolah-olah merupakan bentuk dramatis dari bentuk tumbuhan.
Sedangkan yang satu lagi adalah bulu. Bulu tersebut berwarna hitam mengkilap dan memiliki panjang sekitar limapuluh centi. Diujung bulu tersebut, terdapat mata pena. Inilah pena bulu yang selama ini selalu setia menemani Tiara. Jika diperhatikan, sepertinya Tiara merawat pena bulu tersebut dengan sangat baik.
Tiara membuka kotak penyimpanan itu. Lalu gadis itu meraih pena bulunya. Terlihat gadis itu tampak merapikan sejenak bulu hitam pena itu. Lalu dengan berhati-hati, Tiara memasukan pena bulu itu kedalam kotak tersebut. Seolah pena itu adalah benda berharga untuk Gadis itu. Demi Tuhan Tiara, itu hanya pena bulu yang dapat Tiara dapatkan darimana saja.
Setelah memastikan pena itu telah berada pada tempatnya, Tiara meletakan kembali ke bawah kursi dan melangkah kembali keluar kelas lewat pintu belakang dimana dia meminta Saravi menunggu.
Sejak tadi, Saravi menunggu Tiara dengan bersandar pada tembok di sebelah pintu keluar. Dan sekian lama menunggu, akhirnya Tiara keluar juga dari dalam kelas.
"Maaf menunggu, lama ya?" Setelah Tiara menemukan Saravi, ketika sebelumnya gadis itu mengedarkan pandanganya. Saravi melepaskan punggungnya yang sedaritadi bersandar ke tembok. "Tidak mengapa, kok." Saravi menoleh kearah Tiara. "Baiklah, kita ke kantin sekarang."
Tiara menganggukan kepala tanda setuju. Kedua gadis itu segera melangkah pergi menuju kantin.
Sesampainya di kantin, mereka berdua segera mengambil beberapa makanan. Beruntung bagi mereka karena saat ini kantin itu belum terlalu ramai, sehingga belum terjadi antrian.
Saravi yang sudah mengambil makan siang kini mencari tempat duduk. Tiara tampak sedang berbincang sebentar dengan penjaga kantin, sebelum mendekati Saravi.
"Mau duduk dimana?"
Saravi menoleh kearah Tiara. "Tidak tahu. Kau saja yang pilih."
Tiara mengedarkan pandang. Setelah penglihatanya mengembara, tatapanya kini tertuju kepada sesosok manusia yang sedang melambaikan tangan kearah mereka. Bukan, itu bukan lambaian biasa. Lambaian itu seolah berkata, hei kemarilah.
"Saravi, bagaimana kalau kita duduk disana." Tiara menunjuk sosok yang melambaikan tangan dengan ekspresi dan gerakan kepalanya.
Saravi melihat kearah yang ditunjuk Tiara. Gadis itu ragu sesaat. Diluar dugaan, tanpa menunggu jawabanya, Tiara sudah berjalan mendahuluinya.
"He-hei, tunggu..." Mau tidak mau Saravi pun mengikutinya.
Sosok yang melambaikan tangan itu antusias menyambut mereka.
"Sini sini, duduk disini." sosok itu menggeser duduknya dan menepuk-nepuk kursi yang kosong.
Tiara segera duduk. Sedangkan Saravi terdiam. Sejenak dia tampak tidak yakin.
"Kenapa Saravi?" Sosok itu melihat keraguan Saravi. "Kemarilah, duduklah disini." Sosok itu berusaha meyakinkan Saravi.
"Ba-baik Bu Tasya." Saravi pun duduk. Biarpun Saravi masih merasa canggung.
Karena bagaimana pun juga, Bu Tasya adalah guru pengajar merangkap wali kelasnya. Oh ya, Saravi tadi berpikir Bu Tasya adalah seorang gadis. Dari penampilanya, memang sepertinya mereka sebaya. Walaupun belum pernah dia tanyakan. Namun rumor menyatakan demikian.
"Hei Tasya, kamu tidak makan?"
Saravi terkesiap. Apa tadi yang Tiara bilang? Barusan gadis itu memanggil Bu Tasya hanya namanya saja. Berani benar gadis ini.
"Aku belum lapar. Bukanya kamu yang biasanya mengambil jatahku!"
Eh, tunggu-tunggu, tunggu dulu. Ini bukan percakapan antara murid dan guru. Ini percakapan akrab antar teman. Pikiran Saravi gagal memproses informasi ini.
"Tiara, disini ada Saravi, apa kamu lupa perjanjian kita?" Tasya melirik kearah Saravi.
Tiara terkesiap. "Eh um, maaf." Tiara segera menutup mulutnya dengan tangan. Sedetik kemudian dia melepaskanya kembali. "Aku lupa. Maaf kebiasaan."
Tasya tertawa geli melihat tingkah Tiara yang merasa bersalah. "Tidak apa-apa, kok. Aku juga ingin akrab dengan Saravi. Bukanya sekarang Saravi tinggal di rumah Abdi. Benarkan Saravi?"
Tiara membelalakan mata, mulutnya yang masih mengunyah itu terbuka. Segera dia menoleh kearah Saravi. Dari wajahnya Tiara mengkonfirmasi bahwa, benarkah kata Tasya, atau semacamnya.
Tanpa ragu Saravi mengangguk. "Itu benar. Sewa kamar di rumah Abdi murah. Darimana Bu Tasya tahu?"
"Dari data murid. Bukanya itu yang kamu tulis."
"Ah, benar juga." Saravi mengangguk.
Tiba-tiba Tiara bangkit. "Aku mau tambah."
Tasya tidak bereaksi. Saravi tertegun. Apa-apaan dia, bukanya porsi makanan ini versi jumbo. Saravi sejak tadi berpikir suatu cara agar makananya bisa habis, sedangkan Tiara mau tambah. Apa sebenarnya bahan dasar dinding perutnya. Belum lagi bagaimana tubuh Tiara tetap sexy dengan nafsu makan sebesar itu.
Tasya mendekati Saravi. "Kau akan lihat kalau ogre mengamuk." Tasya berbisik sembari menunjuk Tiara dengan gerakan kepala.
"Oh ya Saravi, panggil aku Tasya saja." Tasya berpikir sejenak. "Kecuali kalau sedang formal. Seperti proses belajar mengajar, pertemuan orang tua dan guru atau hal-hal semacam itu. Kalau di kantin, sih panggil nama saja."
Saravi mengangguk. "Baik Bu. Eh, bukan. Maksudku, Tasya."
Tiara saat itu kembali dengan satu nampan penuh berisi makanan.
Saravi dan Tasya hanya bisa menggeleng. Gadis kalem dengan nafsu makan Ogre.
Tiara memandang kearah dua gadis itu. "Apa, apa ada yang salah?"
Saravi menelan makananya. "Abdi tahu soal ini?"
Tiara mengangguk. "Aku pernah memintanya dibelikan empat bungkus nasi goreng..."
"Dan Abdi tidak keberatan" Saravi berpikir sejenak. "Maksudku bukan uangnya, tapi porsinya."
Tiara mengangguk sembari tetap mengunyah.
"Oh ya, apa hari ini Abdi masuk?" Tasya melihat dua gadis itu bergantian.
Mereka menggeleng.
"Dia hanya mengantarkan aku saja lalu pergi." Saravi memandang Tasya. "Katanya dia mau baca buku sebelum performa."
"Apa yang kamu maksud dengan, mengantar tadi." Tiara menatap Saravi penuh selidik. Walau nada bicaranya tetap dibuat setenang mungkin.
Saravi paham betul sikap Tiara. "Aku tidak pernah ingat jalan, jadi dia sering mengantarku."
Mendengar itu, Tiara bernapas lega.
"Tenang saja Tiara, kau adalah favorit-nya." Saravi menggoda.
Tiara merona. "Eh um ah anu. Aku, aku.."
Melihat sikap Tiara yang salah tingkah, Saravi dan Tasya tertawa geli.
Tasya menghela napas tiba-tiba. "Ah baiklah, sepertinya bocah itu harus aku tegur."
Saravi dan Tiara terkesiap. Dua gadis itu memandang Tasya penuh arti.
Tasya melihat reaksi keduanya. wajah mereka berkata bahwa, ampunilah dia, kumohon.
"Ya, ya, ya. Aku tidak tahu ada apa antara kalian dan Abdi. Tapi, jika dilihat reaksi kalian, sepertinya hubungan kalian dan perasaan kalian ke Abdi, sepertinya lebih komplek daripada hanya sekedar teman. Apa aku benar?"
Tiara dan Saravi terkesiap. Mereka menunduk dan wajah mereka merona.
Tasya tertawa geli. "Baiklah baik. Aku tidak sekejam itu, kau tahu. Apalagi pria itu sangat spesial bagi kedua temanku ini. Aku bisa apa lagi."
Terlihat asap menguar dari kepala Saravi dan Tiara. Dua gadis itu tidak bisa berkutik mendengar perkataan Tasya yang mengenai sasaran.
Sebenarnya, sejak tadi puluhan pasang mata memperhatikan ketiga gadis itu. Menikmati bentuk keindahan yang sayang bila dilewatkan. Bentuk tubuh mereka laksana kontestan putri sejagad dengan pinggul dan dada sintal, ingatkan para pria yang lupa menutup mulutnya. Tapi sepertinya mereka bertiga tidak peduli pandangan para pria haus belaian itu. Mereka masih asyik bercengkrama.
Tiara meninggalkan tempat duduknya. Dia berjalan mengambil makan, lagi! Dan kembali duduk bersama Tasya dan Saravi.
"Kau harus membiasakan diri dengan pemandangan ini
" Tasya memperhatikan Saravi yang terus memasang wajah horor saat melihat Tiara kembali dengan nampan penuh jilid 3.
" Tasya memperhatikan Saravi yang terus memasang wajah horor saat melihat Tiara kembali dengan nampan penuh jilid 3.
"Tasya, ada kelas habis ini?" Saravi berusaha mengabaikan Tiara dan perut Ogre-nya.
"Setelah jam istirahat ini aku tidak ada kelas lagi. Aku akan mencari Abdi dan bicara padanya."
Kau tahu dimana dia?" Tiara menimpali.
Tasya mengangguk. "Biasanya sih, dia ada di tempat itu. Kalian sendiri habis ini mau apa?"
"Aku ada kelas musik setelah pulang sekolah." Saravi menjawab.
"Aku sih, ada briefing tentang kompetisi matematika internasional." tiara memasukan suapan terakhir ke mulutnya.
Tasya mengangguk. Tiba-tiba, gadis itu teringat sesuatu. "Oh ya Tiara, sepertinya kali ini aku tidak bisa jadi mentormu tahun ini."
"Ke kenapa?" Tiara tampak kecewa.
"Aku mau fokus mengerjakan desertasiku, tahun ini harus selesai." Tasya menatap Tiara penuh arti. "Terus terang saja, aku tidak habis pikir, kenapa jenius sepertimu menolak program akselerasi."
"Aku, bagaimana ya. Yah, aku ingin matang pada waktunya. Entah mengapa aku menikmatinya." Tiara menerawang.
Percakapan tiga gadis idola itu terus berlanjut. Mereka membicarakan banyak hal hingga bel tanda masuk kelas berbunyi.
***
"Ternyata benar, disini kau rupanya." Tasya memandang nyalang sosok didepanya.
Sosok itu melirik sebentar kearah Tasya, lalu asyik dengan bukunya.
"Kau harusnya tidak disini. Demi tuhan Abdi, jawab pertanyaanku. Apa. Yang. Kau. Lakukan. Disini."
Abdi menutup bukunya dengan enggan. Orang didepanya seakan-akan bisa mengeluarkan sinar penghancur dari kedua matanya. "Membaca, tentu saja, apa ada yang lain!?"
"Kau tahu!" Tasya menujuk tepat ke wajah Abdi. "Bagaimana dengan absensi-mu."
Abdi masih tenang. Lebih tepatnya, tidak peduli. "Aku. Tidak. Peduli."
Kesal bukan main Tasya. Rasanya seperti gunung berapi yang sedang erupsi dan siap memuntahkan lahar panas sewaktu-waktu.
"Hei, ini bukan hanya kau saja! Aku juga. Kau tahu bagaimana sulitnya aku memperjuangkan kelulusanmu, jika kehadiranmu dibawah rata-rata."
"Kalau begitu berhentilah. Berhentilah memperjuangkan aku." Abdi kembali membuka bukunya.
"Apa katamu!" Tasya mulai kesulitan mengendalikan emosinya. "Apa semua ini tidak ada artinya bagimu. Ayolah Abdi, ini hanya sebuah absensi. Tidak lebih, kenapa ini menjadi sulit seperti ini."
Tasya merasa pandanganya memburam. Air mata telah menggenang disana. Tidak, jangan, jangan menangis. Paling tidak, tidak untuk saat ini.
"Bu Tasya, anda ingin apa dari saya." Abdi tidak menurunkan intonasinya. "Bukankah nilai saya baik-baik saja. Sedangkan kalau absensi, saya tidak bisa melakukanya. Saya harus mencari uang. Kerja di kedai hingga larut. Dan seperti saat ini. Saya harus performa di taman di akhir pekan."
"Lalu, bagaimana dengan uang sewa kamar dari Saravi, apa itu kurang. Astaga Abdi, berhentilah memanggilku. Bu. Dan berhentilah bicara formal, tahu." Tasya menggeleng.
"Tentu saja kurang, lagi pula harganya aku buat murah." Abdi menghela napas. "Jika aku memanggilmu Tasya, kau pasti sudah menangis saat ini, tahu."
Tasya tidak kuasa menahanya lagi. Gadis itu mulai sesenggukan. Dia tidak mengerti, kenapa jika didepan pria ini, ketegaran yang dimilikinya hancur seketika. Seolah dia tidak perlu menjadi hebat di depan pria ini.
Abdi melunak mendapati kondisi Tasya yang sesenggukan. Sungguh Tasya mirip gadis pada umumnya.
"Ah sudahlah, jangan menangis." Abdi berjalan mendekati Tasya dan mengusap lembut bahunya. "Duduklah, akan kucarikan air minum." Abdi membawa Tasya duduk di sebuah kursi kosong yang ada diruangan itu. Dan Abdi memberikan Tasya air minum kemasan miliknya. Tasya menyambut dan meminumnya. Sekarang gadis itu merasa baikan. Abdi senang melihatnya senang dan duduk. Abdi duduk disamping Tasya.
"Kau ingat." suara Tasya parau. "Di tempat ini kita pertama kali bertemu."
"Iya aku ingat. Dulu kau tidak secantik sekarang. Dan orang menyangka kamu hantu."
Mereka tertawa. Namun saat itu juga Tasya tersipu. Apa tadi katanya, cantik.
Abdi meraih bukunya kembali. Tasya memperhatikan buku Abdi dan melihat tumpukan buku yang ditumpuk di salah satu sudut meja. Tasya mengerutkan dahi. Buku itu, buku yang diambil Abdi itu. Benarkah pria ini membaca buku dengan tema seperti ini?
"Abdi, kamu tidak salah ambil buku, kan."
"Kenapa rupanya. Ada yang salah?" Pria itu tidak melepaskan perhatian dari bukunya.
"Itu, bukankah itu semua adalah literasi kuno?" Tasya mengambil salah satu buku itu. "Bahkan aku sendiri jarang membacanya." gadis itu menatap Abdi penuh tanya.
"Abdi merasa gadis ini tidak akan menyerah jika sedang penasaran. Kembali dia menutup bukunya dan menoleh kearah Tasya. " apa yang ingin kau tahu."
"Semuanya, ceritakan semuanya padaku. Coba lihat buku-buku ini. Temanya tentang sejarah peradaban." Gadis itu mengambil satu buku yang lainya. "Yang ini tentang adab berpuasa. Sedangkan yang disana tentang peningkatan energi prana. Pasti ada kejadian luar biasa hingga kamu membaca banyak buku dengan berbagai tema."
Satu yang Abdi lupa, kalau Tasya memiliki akurasi analisa yang tinggi. Gelar Magister di usia semuda ini bukan hisapan jempol rupanya. "Ok ok, kamu menang. Aku tidak bisa menceritakan detailnya. Tapi secara garis besar aku mencari tentang kekacauan dunia ini. Hingga keadaan seperti ini menimpa orang sepertiku,kekurangan uang, kesulitan makan, hingga harus puasa. Dan sekalian saja, aku cari juga tentang fungsi puasa."
Tasya memperhatikan pria itu bercerita, diamatinya pria itu lekat-lekat. Sungguh pria dengan rasa ingin tahu adalah sexy.
Tunggu dulu! apa itu berarti abdi itu sexy.
Segera Tasya menghalau pikiranya yang ngelantur. Tanpa disadari wajahnya memanas. Tasya segera menggeleng-geleng sendiri.
"Ada apa?" Abdi keheranan dengan tingkah Tasya.
"Eh ah ti tidak ada apa-apa, kok. Lanjutkan saja."
"Aku sudah selesai." Abdi kadang bingung dengan sikap wanita yang sering berubah. Termasuk gadis ini. Gadis anggun seperti bangsawan. Mata yang terbingkai sempurna dengan kacamata. Sangat pintar hingga banyak pria minder dibuatnya. Belum lagi dada dan pinggulnya yang bulat sempurna. Tidak ada yang Tahu kalau Tasya dulu adalah kutu buku.
"Sebenarnya kota ini adalah kota suci tiga agama." Tasya memasang wajah serius. "Yang aku tahu, ketiga agama ini saling berebut pengaruh. Lalu agama itu dipolitisasi dengan berbagai kepentingan. Kau tahu, kan. Kalau area ini banyak sumber daya. Sampai disini sudah jelas?"
Abdi mengangguk.
Tasya mengangguk. "Itu sebabnya tempat ini rawan kriminal. Padahal area ini masuk zona hijau. Entah bagaimana dengan zona diluar zona hijau. Sampai disini sudah jelas?"
Abdi mengangguk. "Kau seperti seseorang yang aku kenal."
"Oh ya, siapa dia?"
"Dia adalah guru wali kelasku." Abdi tersenyum usil.
Tasya mengerang, lalu memukul bahu Abdi kesal. Tiba-tiba Tasya teringat sesuatu. "Oh ya, aku tidak tahu ini berguna atau tidak. Tapi menurut legenda, biasanya dijaman kekacauan ini akan muncul sosok yang ditemani para malaikat dan melakukan perbaikan. Tapi yah, itu cuma legenda, masih belum terbukti."
Abdi mengangguk. Didalam hati dia merasa legenda itu mirip seperti angel dan among.
################
Setelah istirahat cukup lama, akhirnya Bab ini aku publish juga. Semoga cerita kali ini berkenan
sudi kiranya injak vote dan tinggalkan komen....sumpah, saya perlu masukan untuk tulisan ini supaya lebih baik
Komentar
Posting Komentar