6. Saravi
"...termasuk tidur denganku."
"Eh ah um i iya, termasuk tidur, termasuk tidur uh denganmu um." terlihat wajah Saravi menunduk. Rona merah padam mulai terlihat.
Abdi menatap saravi dengan seringai usilnya.
Saravi menunduk.
Lagi, Abdi menatap dengan seringai usilnya
Saravi masih tetap menunduk, kali ini menunduk lebih dalam.
Seketika tawa Abdi meledak setelah melihat reaksi gadis dihadapanya. Dan sepertinya kepulan asap mulai keluar dari kepala Saravi. Kedua tangan gadis itu mulai mengepal kesal. Tanpa disadari Abdi, hawa pembunuh berdarah dingin tampak menguar dari tubuh Saravi. Kilatan mata dan seringaian bengis tergambar jelas diwajah gadis itu.
*BLETAK!!
Seketika tawa Abdi terhenti. Kini digantikan kerasnya suara erangan. Suara erangan yang menyerupai suara lolongan, mirip suara anjing yang terkena lemparan sepatu majikanya.
Abdi memegang erat kepalanya. "A apa yang kamu lakukan..." Oh, astaga itu pasti sakit sekali.
"Diam!!" Sebuah benda semacam bilah besi panjang teracung angkuh dihadapan Abdi.
"Kamu kejam..."
"Oh, ya! Siapa yang mulai duluan."
Entah ini, saat ini adalah saat yang tepat atau bukan. Namun, sunggingan senyum simpul samar terbit. Dan sekali lagi, entah ini saat yang tepat atau bukan, Abdi merasakan kehangatan. Berani sumpah, bahwa disetiap mililiter darah yang merayap ditubuhnya, kehangatan itu ikut menyebar. Ini hebat!
Sudah hampir dua bulan Saravi tinggal di rumah Abdi. Tapi, apabila dihitung dari kontrak mereka sebagai angel dan among, saat ini sudah lebih dari dua bulan. Memang tidak bisa dipungkiri, dengan Saravi menyewa salah satu kamar dirumahnya, sangat membantu keuanganya.
Tapi, bukan itu saja motifnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa uang itu penting, akan tetapi itu bukanlah segalanya, dan anggaplah Abdi naif. Tapi, kebersamaan dan interaksi mereka berdua hari demi hari, entah apa kata yang dapat menggambarkanya. Abdi hanya bisa menggambarkan. "...hangat."
"Eh..?"
"Tidak, bukan apa-apa, kok."
Bilah panjang itu masih mengacung kuat secara horizontal dan tertuju tepat diwajah Abdi dengan aura intimidasi yang luar biasa dari si pemilik bilah besi tersebut, Saravi.
Sorot mata nan tajam laksana sorot mata burung phoenix itu menatap lurus ke arah pria dihadapanya tersebut. Dan berani sumpah, ini adalah penampilan terbaik Saravi.
Bukan saat sedang merona merah.
Bukan saat tersenyum manis.
Melainkan dengan penampilan seperti ini. Wajah serius, mata yang berkilat tajam, ditambah senyuman kecil yang seolah-olah menikmati kebengisanya. Menakutkan? Mungkin itu yang sebagian orang gambarkan. Tetapi, sepertinya Saravi memang diciptakan seperti itu adanya.
Asal tahu saja, Saravi tidaklah seperti kelihatanya. Sangat banyak informasi yang Saravi berikan kepada Abdi terutama hubungan antara angel dan among. Terlepas bagaimana penyampaianya. Mengancam, tentu saja. Itulah Saravi. Kebaikan yang terbungkus sempurna dalam gaya mengancam.
Abdi masih saja memijit-mijit ringan bagian kepalanya yang habis kena hajar tadi.
Seakan-akan menyadari pergerakan Abdi. "Kenapa..?" Nada ketus Saravi yang belum turun dari tadi. "Mau tambah lagi?" Kini, Saravi menatap angkuh.
Abdi mengerang gemas. "Kamu itu cantik, tapi tindakanmu liar."
*BLETAK!
Lagi, cuma sekali dan kali ini yang paling keras.
Dan raungan itu terdengar kembali. Dengan lolongan yang sama kerasnya dengan pukulan itu. "Apa kamu bilang tadi, aku liar?"
Abdi mengangkat tanganya, sekejap. Sebelum kembali mengusap kepalanya yang terasa sangat nyeri. "Amp-pun. Ma-af, a-aku minta maaf." Walaupun dia tidak yakin minta maaf untuk apa. Sepertinya terkena pukulan lagi bukanlah ide yang baik.
Melihat pria didepanya itu menyerah tanpa syarat, hati Saravi tersentuh. Ini tidak bisa dibiarkan, tidak dalam mode seperti ini.. Demi Tuhan Saravi, oh astaga! Bahkan pria itu bilang dia cantik, dua kali, dalam satu pagi. Ayolah, pria didepannya itu bisa, sangat bisa membuat Saravi serangan jantung mendadak.
Tanpa kata, tapi Abdi dapat melihat dan merasakan perubahanya. Saravi melunak, terlihat acunganya mulai mengendur.
Perlahan ujung bilah tersebut disentuh dengan kedua jari Abdi. Dan dengan sangat hati-hati, benda sialan yang telah sukses membuat kepalanya nyeri luar biasa itu, disingkirkan dari depan wajahnya. Sebelum sang empunya berubah pikiran.
Pandangan Saravi sedikit melunak. "Sepertinya cukup." Saravi menghela napasnya. Bilah panjang itu sepenuhnya ditarik dari wajah Abdi. Tentu saja Saravi sangat tidak ingin kepala pria itu dibuat gegar otak. Paling tidak, itu tak akan terjadi saat ini.
Menghela napas lega, Abdi menatap Saravi. "Aku kira benda itu tidak kamu bawa kemari."
"Maunya aku, sih begitu." dengan dingin Saravi mulai memasukan bilah sialan itu pada tempatnya. "Tapi, setelah kejadian waktu itu, sepertinya lebih baik kalau rapier ini aku bawa. Untuk berjaga-jaga, sih."
Rapier, adalah bilah besi panjang yang dibuat Saravi untuk menghajar Abdi tadi.
Bukan seperti, namun rapier itu memanglah sebuah pedang. Sebagai gambaran saja, pedang ini merupakan senjata jenis tusuk. Merobohkan lawan dalam satu kali serang adalah spesialisasi pedang ini. Bilahnya kecil pipih dan meruncing diujung. Pipih namun tidak terlalu tipis hingga cukup lentur. Bilah pipihnya masih membuatnya cukup tegak.
Pedang tusuk ini juga bisa membuat sayatan sempurna. Terima kasih kepada bagian tajam pedang ini dibagian bawah. Begitulah, pedang ini memang hanya memiliki satu sisi tajam.
Dibagian tangkai pedang, terdapat bagian pelindung tangan. Menyerupai mangkuk kecil, dimana bagian cekungnya menghadap tangan si pemegang. Dalam beberapa kasus pelindung tanganya diberi berupa ornamen.
Abdi memperhatikan rapier dalam sarung itu. "Itu." Membuat ekspresi sedang menunjuk dengan gerakan kepalanya. "Yang tumpul, kan?"
Saravi menganggukan kepala. "Yang tajam masih belum aku ambil, sih. Tapi cepat atau lambat rapier tajamku sepertinya aku ambil.
Abdi mengangguk tanda mengerti. Sembari menyesap teh cammomile miliknya. Dia sadar betul reputasi Saravi dengan pedangnya itu. Gadis itu merupakan atlit kenamaan. Dalam cabang olahraga anggar, tentu saja.
Namun itu bukanlah kemampuanya. Benar, bermain pedang-pedangan diarea sempit dengan gerakan maju mundur itu bukanlah kemampuan Saravi sebenarnya. Abdi ingat betul kemampuan bertempur Saravi. Saat itu, gadis dihadapanya ini terlihat sangat, sangat sangat berbahaya.
Kejadian itu sudah terlewat. Dan berani sumpah, Abdi masih bergidik jika mengingatnya.
***
Sudah beberapa jam berlalu sejak reaktor nuklir sistem fusi hidrogen dan helium itu enyah dari cakrawala. Pendar sinarnya kini digantikan gemerlap kecil mercury, hallogen, dan neon. Dibeberapa pemukiman bahkan masih menggunakan lampu pijar dari gulungan kawat.
Disebuah bangunan yang tidak begitu mencolok terlihat beberapa aktifitas manusia.
Tidak ada yang istimewa dari bangunan itu. Eksterior dan interiornya juga tidak mencolok.
Kecuali beberapa orang sedang memakai baju ketat berwarna putih.
Beberapa orang berbaju putih itu menggunakan masker dan masih beradu pedang. Sebagian sudah melepas maskernya dan beristirahat.
Dan yang lain sudah berganti kostum dan hendak pergi meninggalkan bangunan itu yang tak lain adalah sasana anggar. Tempat Saravi berada saat ini.
Beberapa rekanya sudah pulang dari sasana. Beberapa masih di dalam entah apa yang mereka lakukan, Saravi tak peduli. Satu-satunya hal yang dipedulikan saat ini adalah seseorang yang akan menjemputnya dan membawanya pulang.
Dia sudah berjanji.
"Menunggu seseorang?" Seseorang sepertinya mengajak Saravi bicara. Suara gadis.
Saravi menoleh ke arah sumber suara itu. "Oh Berlin. Tepat seperti katamu."
Berlin berjalan mendekat dan memposisikan diri berada disamping Saravi.
"Dan seperti biasa, pria selalu terlambat."
Berlin tertawa geli. "Perkataan itu seperti bukan dirimu saja. Sejak kapan kamu jadi sentimentil seperti ini."
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Saravi tersenyum samar. Kini pandanganya menatap kosong kedepan.
Berlin menatap Saravi, dia memperhatikan setiap perubahan sikap gadis itu. Berlin senang bercampur cemas dibuatnya. Perubahan ini tidak, tidak salah lagi, gadis itu sedang kasmaran. Belakangan ini Saravi sering menatap kosong ke depan.
Berlin berdehem sejenak. "Apa...dia...menciumu?" Dia mengucapkan perlahan. Takut apabila pertanyaanya menyinggung Saravi. Terlebih lagi dia tidak ingin dianggap ikut campur urusan orang lain.
"...um." Saravi terkesiap. Kepalanya menunduk dan perlahan dia merasakan wajahnya memanas.
Aih, betapa manisnya jika seorang gadis sedang kasmaran. Berlin tahu itu dan sekarang dia sedang disuguhi pemandangan seorang gadis yang sedang kasmaran.
"Dan, kau tahu." Saravi menambahkan. "Ciuman pertama dari seorang gadis..."
"...itu sangat sakral." Mereka berdua mengatakan bersama.
Sejenak keheningan menguasai mereka. Namun sedetik kemudian, terdengar suara tawa renyah dari keduanya.
"Lalu, bagaimana denganmu?" Saravi mulai menatap Berlin. Dia bertanya saat tawa mereka berdua mereda.
"Eh..um...ah, ya begitulah."
Saravi terkikik kecil melihat gadis itu yang ganti salah tingkah. Memang tiada rahasia diantara mereka berdua, kecuali fakta bahwa Saravi adalah angel. Tentu Saravi tidak ingin Berlin menatapnya dengan pandangan, apa kau gila atau semacamnya.
"Ah, sekarang satu sama."
Berlin mengerang kesal. "Sudahlah, kita ganti saja topik bahasanya."
Saravi kembali terkikik. "Oh baiklah. Memangnya latihan kendo-mu sudah selesai?"
Berlin mengangguk. "Begitulah, seperti yang kau lihat."
"Aku sebenarnya ingin mengatakan kepadamu." Saravi menampakan raut serius.
Berlin juga menatap Saravi dengan siaga. "Dan itu adalah..?"
"Aku ingin beradu pedang denganmu." Saravi menatap lurus kearah mata Berlin. "Kalau bisa sih, memakai pedang tajam atau pedang tumpul juga boleh. Keluarkan saja sakabatto-mu itu. Yang jelas tidak memakai pedang mainan ini." Saravi menunjuk kearah pedang mainan mereka masing-masing.
Berlin menatap dalam mata Saravi. Tidak ada keraguan disana. Dingin, angkuh dan mengancam. Ah, dia sudah kembali ke mode default rupanya. Dan apa itu barusan. Sebuah tantangan?
"Siapa takut!" Mata Berlin berkilat. "Sepertinya akan seru."
Mereka berdua sadar akan kemampuan masing-masing. Tahu reputasi masing-masing. Mereka tangguh di pedangnya masing-masing. Tiap kali mengalahkan puluhan pemain pria setiap kali latihan, terdengar membosankan. Mereka butuh tantangan lebih.
Tanpa mereka sadari, bahwa ada dua sosok berjalan memasuki pelataran sasana dan mulai mendekati mereka. Dua sosok pria. Seorang berperawakan kurus dan tinggi. Pipinya tirus dengan mata menyipit dibagian luar. Rambutnya dipotong spike dan wajah menawan dengan caranya sendiri. Dan sulit dipahami bila seringaian usil sering terbit dari wajah itu. Satu yang pasti, pria itu membawa tas gitar dan isinya dipundak.
Sedangkan, yang seorang lagi bertubuh lebih pendek dan lebih berisi. Rambutnya dipotong mohawk dalam versi cepak. Dibahunya menggantung sebuah alat perkusi. Mungkin sebuah jinbe, atau rebana, entahlah.
Saravi terkesiap, bukan main senangya dia sekarang, dan jantungnya ikut mengkonfirmasi. Dan yang lebih penting.
Dia menepati janjinya.
Benar, itu adalah Abdi, dan seorang lagi kalau Saravi tak salah ingat adalah Sora. Patner Abdi setiap kali dia performa.
"Kau terlambat.." Saravi menatap tajam kearah Abdi. "Kau tahu berapa lama aku menunggumu!"
"Ah, maaf. Tidak akan diulangi, janji." Pria itu tahu kalau tindakan dan kata hati gadis itu berseberangan. Sungguh kontras.
Sebenarnya Abdi merasakan kobaran api semangat menguar dari tubuh kedua gadis itu. Walaupun Abdi tidak tahu penyebabnya. Yang jelas kobaran itu menakutkan.
Mereka berempat berbincang ringan sebentar. Hingga Berlin pulang karena taxi online-nya sudah datang. Sedangkan Abdi, Saravi, dan Sora memilih model transportasi lain. Satu lagi yang Abdi tahu kalau Berlin setangguh Saravi. Kenapa dua gadis petarung ini bisa berteman. Ah, entahlah.
Ini tidak bagus. Sepanjang jalan mereka merasakan kebisuan berkuasa. Kecuali Sora, dia sudah mengkonfirmasi lewat wajahnya bahwa gadismu menakutkan, dimana kau dapatkan singa betina itu, atau semacamnya. Satu yang pasti bahwa orang ini tidak akan memulai pembicaraan.
Abdi menghela napas. "Bagaimana latihanya?" Cuih, pertanyaan Absurd apa itu. Kau payah Abdi, benar-benar payah.
"Membosankan." Jawab Saravi datar.
Mati saja kau, pria super payah!!! Kau tahu Abdi, gadis itu rela memberikan ciuman pertamanya yang berharga hanya untuk menyelamatkanmu. Kau tahu!
Sejenak tadi, samar Abdi merasakan tekanan emosi itu. Abdi mengedarkan pandanganya. Hingga suara raungan mesin dalam jumlah banyak mendekat.
Semoga itu bukan mereka. Dan kalaupun itu memang mereka semoga bukan menimpa Abdi, Saravi dan Sora.
Saravi merasakan perubahan Abdi mulai membuka mulut. "Ada apa?"
Kepalanya menggeleng tidak jelas sembari menatap gelisah kearah konvoi didepanya.
Pandangan Saravi mengikuti pria itu. Giginya mengerat kesal. "Semoga kita bukan sasaran mereka." Saravi berusaha tetap dingin setelah melepaskan eratan giginya.
Terlihat Sora juga nampak gelisah. Masih segar dalam ingatanya, bagaimana berandalan bermotor itu merampas hasil jerih payah dari performa di taman. walaupun belum tentu ini adalah berandalan yang sama.
Sebenarnya mereka berdua selalu melawan jika para berandalan itu mulai memeras. Walaupun selalu berakhir dengan babak belur.
Belum lagi, saat ini mereka Saravi. Benar dia terlatih sebagai atlit, tapi di pertarungan jalanan. Siapa yang tahu hasilnya. Banyak kejutan didalamnya.
"Tetap tenang." Abdi dapat merasakan ketegangan dalam diri Sora. Namun tidak untuk Saravi. Sepertinya gadis itu menikmati ketegangan ini. "Bersikap sewajar mungkin."
Keduanya mengangguk tanda setuju.
Dalam sekejap gerombolan itu berpapasan dengan rombongan Abdi. Tekanan emosi dan ketegangan makin meningkat.
Konvoi bagian depan berpapasan.
Ketegangan terasa.
Makin ketengah.
Tegang!
Makin kebelakang.
Lebih tegang! Bagian belakang hampir melewati mereka.
Makin tegang!
Dan...
Sial! Semua tidak semulus yang diharapkan. Terlihat beberapa motor melepaskan diri dari rombongan utama, memutar balik dan seperti yang diduga, mereka berhenti dengan menempatkan motornya melingkar, seolah mengurung kelompok Abdi.
Abdi merasakan keringat dingin mengalir dari keningnya. Motor yang mengelilingi mereka perkiraan ada belasan. Itu berarti jumlah orangnya ada puluhan. Dengan asumsi satu motor berisi dua orang.
Kepalang tanggung, mereka bertiga bersiap untuk yang terburuk. Saravi juga telah bersiap dengan rapier ditangan, walaupun belum keluar dari sarungnya.
Biasanya berandalan ini akan menyerang tanpa alasan, keroyokan, lalu meninggalkan korban begitu saja.
Gerombolan itu sudah mendekat kearah Abdi, membawa berbagai senjata, dan dengan wajah tertutup helm full face.
Sepertinya tidak akan pernah ada percakapan diantara mereka. Apalagi perkenalan atau semacamnya, lupakan saja.
Gelombang serangan dimulai. Seseorang dengan rantai membuka serangan. Rantai itu berputar diudara sebelum disabetkan. Sora maju menerjang sebelum rantai itu mengenai sasaran. Tapi sayang Sora tidak bisa memukul wajahnya. Hanya berhasil memukul bagian perut saja. Tapi Sora tidak siap dengan serangan balik, sebuah balok kayu menghantam keras punggungnya.
Saravi mencoba mengambil inisiatif serangan. Dengan rapier tumpul terhunus, dia menyerang orang berbalok itu dibagian kaca helm. Rapier itu berhasil tembus. Orang itu memekik kesakitan. Satu tumbang.
"Terimakasih" . Merasakan nyeri di punggungnya Sora berusaha bangkit. Terhuyung, Abdi mendekati Sora dan nembantunya berdiri. Saravi mengambil inisiatif serangan kembali. Gadis itu merangsek maju, kini sasaranya seseorang dengan senjata rantai di tangan. Dia berusaha menyabetkan rantainya itu. Rantai itu ditahan Saravi dengan Rapiernya. Rapier itu dibelitkan ke arah rantai tersebut. Dalam satu hentakan Saravi menghempaskan rantai itu lepas dari tangan empunya.
Penyerang itu terhenyak. Belum sempat Dia kembali ke kesadaranya, sebuah bilah panjang berhasil menembus kaca helemnya. Tidak berhenti sampai disitu bilah yang merupakan Rapier Saravi terus merangsek maju hingga menusuk bola mata penyerang itu. Segera penyerang itu mengerang sejadi - jadinya.
Aksi Saravi pun berlanjut. Targetnya adalah pengguna pisau dan beberapa senjata pendek lainya. Beberapa dari mereka tidak siap menerima serangan setelah melihat beberapa temannya roboh oleh satu orang. Dengan perbedaan jangkauan serangan Saravi leluasa menusukkan kembali Rapiernya ke dalam kaca helm, dan memecahkan bola mata- bola mata milik mereka satu persatu.
Abdi tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana seorang gadis bisa memiliki daya tempur sebesar itu.
Terlepas kejelian Saravi memanfaatkan kelemahan lawan. Ketepatan serangan dan kekuatanya, gadis itu telah merobohkan begitu banyak orang. Melumpuhkan lawan dengan memecahkan bola mata terdengar sederhana. Namun disanalah ide brilian itu. Saravi menyerang psikologi mereka dengan telak. Setelah penglihatan mereka mengalami kebutaan, moral mereka seketika itu juga akan hancur, belum lagi kejutan psikologi mengenai bahwa penyerang mereka hanya seorang gadis.
Benar.
Hanya.
Seorang.
Gadis.
Saravi tidak mengendurkan serangan. Seorang berandal membawa katana terhunus dan dua orang dengan tongkat baseball. Pedang itu merangsek bersama tuanya.
Sasaranya adalah pemegang katana. Melihat Saravi menyerang, berandalan katana itu berniat menusuk. Refleks Saravi, memiringkan badan dan berhasil menghindar. Berandalan itu hilang keseimbangan. Tidak menyiakan kesempatan, Saravi melakukan tackle. Berandalan itu terjatuh, paling tidak itu menghentikan berandalan itu sementara.
Tidak menyiakan waktu, Saravi menerjang berandal bertongkat. Melihat Saravi maju, tongkatnya diangkat tinggi-tinggi. Saat hendak menghujamkan benda sialan itu secara vertikal, Saravi menyerang secepat mungkin. Berkelit kesamping, Saravi mempersempit jarak. Merasa berandalan itu masuk dalam jangkauan, Saravi menghadiahi berandalan itu sebuah tanda mata. Rapier itu memakan korban, lagi. Pecahnya bola mata berandalan bertongkat dan itu akan menghentikanya.
Melihat banyak temanya roboh, berandalan bertongkat yang satu lagi menghempaskan tongkatnya laksana pukulan batter profesional. Berandalan itu mengincar bagian pinggang Saravi. Melihat kekuatan pukulan dan kuda-kuda saat memukul, berandalan itu sepertinya pernah belajar baseball.
Melihat serangan itu, bukanya menjauh, Saravi justru mendekat. Tujuan utamanya untuk mempersempit jarak, sehingga kerusakan mendekati nol. Walau terlihat mudah tapi sebenarnya cara bertahan seperti ini membutuhkan akurasi tinggi. Belum lagi kecepatan gerakan dan yang tidak kalah penting adalah determinasi. Melihat gaya bertarung Saravi, butuh kekuatan mental yang prima.
Setelah mempersempit serangan, Saravi menghadang tongkat itu dengan rapiernya. Setelah tertahan sempurna, Saravi memutar tubuhnya. Sebuah kaki jenjang yang indah beserta heel-nya terhempas, menghujam lurus kearah ulu hati berandalan itu. Seketika berandalan itu membungkuk, memegang perut, berlutut dan roboh.
Melihat rekan-rekanya roboh, berandalan itu tidak terburu-buru menyerang. Mereka sepertinya tidak ingin gegabah. Kesempatan ini dimanfaatkan Saravi untuk mencuri nafas dan berjalan mendekati Abdi dan Sora.
"Kalian keluarlah dari kepungan ini." Tatapan Saravi masih siaga. "Aku akan buka jalanya. Dan jangan menolak!!"
Abdi mengangguk ragu tapi berdebat disituasi ini juga bukan ide yang baik. "Bagaimana denganmu?"
Saravi tersenyum ganjil. "Akan kubereskan mereka semua." Dia melirik kearah Abdi. "Kau pikir siapa aku!"
Sembari berbicara, Saravi telah merobohkan lima orang lagi. Dengan kaca helm tertembus. Saravi sepertinya tahu bagaimana melumpuhkan mereka. Mata tertembus pedang adalah kabar buruk. Belum lagi di dalam helm, itu bencana.
Suara erangan akibat mata tertembus pedang mengalun menyayat malam.
Saravi kembali bersiap. Puluhan orang telah ditumbangkan. Kini hanya tinggal hitungan jari yang tersisa. Sebagian besar tumbang dalam sekali serang.
Orang berhelm itu menyerang putus asa. Saravi menghindar dengan cara masuk lebih dalam kearah penyerang. Saravi menggunakan strategi quarter close combat. Mempersempit jangkauan serang lawan, lalu...
Bola mata orang terakhir, tertembus rapier Saravi.
*PLOk! PLOK! PLOK!
Bukan, pria tadi bukanlah yang terakhir. Masih ada seorang lagi.
Saravi mengarahkan kepalanya. Menoleh kearah sumber suara tepukan tangan tersebut. Tampak bersandar pada motor, seorang berandal. Sepertinya yang ini benar-benar yang terakhir. Paling tidak begitulah menurut Saravi.
Berandal itu melepas helm-nya dan mengambil sesuatu dari selipan motor. "Hebat, kamu sendirian dan mengalahkan anak buahku." Orang itu tertawa.
"Anak buah ya, jadi kau bosnya."
"Benar, dan aku tidak selemah mereka." Orang itu terkekeh.
Saravi bersiaga kembali. "Kita lihat saja.
Orang itu menarik kapak yang dia ambil dari selipan motor. Kemudian dia berlari kearah Saravi.
Kapak serupa kapak tukang kayu, diangkat tinggi-tinggi ke udara.
Seperti sebelumnya, Saravi juga merangsek juga. Kali ini gadis itu melepaskan tendangan. Targetnya adalah ulu hati.
Seketika orang itu mengubah arah serangan. Kapak yang terangkat itu diturunkan guna menghadang tendangan Saravi.
Mengetahui seranganya dibatalkan, Saravi menarik kakinya lagi.
Tidak membuang waktu, orang itu mengayunkan kapaknya. Senjata itu mengarah ke pinggang Saravi.
Saravi menggigit rapiernya dan melakukan back flip satu kali untuk menghindar.
Saravi berdiri. " lumayan." Rapier itu sudah berada ditangan kirinya.
"Terima kasih." Orang itu menyeringai. "Asal aku bisa menghindari tusuk gigimu itu, sepertinya aman. Karena dari tadi kau tidak melakukan sayatan dan hanya menusuk saja.
" euh, pengamatan bagus. Rapier ini tumpul. Hanya ujungnya saja yang tajam dan runcing." Saravi bersiap kembali.
Saravi menerjang lagi. Orang itu juga mengayun kapaknya. Lagi dia mengincar pinggang gadis itu.
Saravi merunduk serendah mungkin untuk menghindari serangan. Dan...
Heel Saravi menendang tepat sebuah benda diantara pangkal paha orang itu.
Spontan Abdi dan Sora merapatkan paha melihat kejadian itu.
Saravi tidak berhenti. Heelnya ditendangkan keatas secara vertikal dan menghantam rahang.
Orang itu hilang keseimbangan. Kepalanya menunduk setelah tadi menengadah karena terkena hantaman heel dirahang.
Tidak membuang waktu, Saravi menghajar tengkuk orang itu dengan tumitnya.
"Ternyata kau sama payahnya seperti mereka." Orang itu roboh. "Aku tak perlu rapier-ku untuk menjatuhkanmu, menyedihkan."
Fakta baru bahwa dikaki Saravi, heel bisa menjadi senjata mematikan. Namun sepertinya itu berlaku bagi seluruh wanita.
Gadis itu menatap dingin para korbanya. Perlahan dia berjalan kearah Abdi. Tanpa luka dan tanpa kehilangan napas. Abdi terhenyak.
Malam itu, Saravi sangat, sangat sangat menakutkan!
***
Abdi tersadar dari lamunan saat sebuah tangan mengusap pundaknya. Itu tangan Saravi. Gadis itu duduk diatas meja. Disebelah kanan Abdi. Memang ada ruang kosong diatas meja itu, dan sekarang Saravi duduk disana.
Saat mereka berdekatan seperti ini, indra penciuman Abdi tergelitik. Aroma itu menguar dari tubuh Saravi. Itu aroma citrus.
Saravi menatap Abdi. "Bagaimana, kita ke sekolah sekarang?"
***
Sudi kiranya meninggalkan vote dan komen.
Aku tidak mengira karakter Saravi jadi berkembang seperti ini.
Senang, tentu saja. Tapi tanpa pembacaku, aku ini bukan apa-apa.
Komentar
Posting Komentar