4. Kontrak Angel

Hening, keheningan yang sepertinya akan menelan seluruh isi dunia tanpa terkecuali. Keheningan yang akan membawa hati pada satu titik. Titik kesadaran untuk memahami ke-fana-an manusia. Titik yang akan membawa pada kesadaran bahwa kita tidak berwenang akan apapun dan siapapun. Hanya Dia yang berhak. Hanya Dia yang berwenang.
Abdi berada dalam situasi ganjil. Malam dengan keheningan tanpa batas. Malam dengan waktu yang sepertinya tidak akan berlalu. Malam dengan terowongan. Terowongan tanpa ujung. Ketakutan mulai menggerayapi akal sehatnya. Akal sehat yang mulai menyerah dalam ketidakberdayaan. Hanya nalurinya saja yang saat ini menolak menyerah atas fenomena yang ganjil yang sedang dia hadapi saat ini.
Abdi mencari tempat bersembunyi. Tidak sulit kiranya mencari tempat seperti itu ditempat dimana dia berdiri saat ini. Segera saja Abdi membawa tubuhnya bersembunyi. Mencari tempat aman sembari melihat perkembangan kejadian berikutnya. Malam yang menakutkan yang menuntutnya untuk selalu waspada. 
saat ini Abdi merasakan keinginan untuk hidup. Keinginan yang tidak pernah dia punyai setelah ditelantarkan orang tuanya sendiri. Rasanya seperti dikhianati. Satu lagi dia menemukan alasan untuk hidup selain Tiara.
Tiba-tiba Abdi terperanjat. Kini terowongan ganjil itu menampilkan pemandangan aneh lainya.
Sebuah sosok.
Sebuah sosok tampak keluar dari dalam terowongan itu. Perawakan sosok tersebut mirip perawakan manusia pada umumnya. Tapi, yang membuatnya aneh adalah scythe yang ada bersamanya. Tidak hanya itu, dengan kain, atau jubah, atau apapun itu yang menutupi seluruh tubuhnya dengan warna hitam itu berhasil membuat sosok tersebut tampak menyeramkan. Yang jelas itu bukan kostum sewaan untuk perayaan halloween atau semacamnya.
Kemudian, sosok yang sangat menyerupai malaikat kematian itu berjalan. Tentu saja dengan scythe yang di panggulnya diatas bahu kirinya. Perlahan malaikat itu bergerak kedepan. Abdi memicingkan matanya mempertajamkan penglihatanya. Kini sang malaikat itu mengarah ke kerumunan dimana tepat ditengahnya terdapat mayat dua pengendara yang tewas seketika karena melanggar lampu lalu lintas. Hingga mobil box melanggarnya.
Sosok mirip malaikat kematian itu berhenti berjalan. Tepat didepan dua pengendara naas itu. Sosok itu berhenti sejenak. Sepertinya dia sedang mengamati kedua mayat itu.
Setelah sekian lama terdiam, sosok hitam itu mulai bergerak. Dia mulai menaikan tanganya tinggi-tinggi. Scythe yang semula bertengger di bahunya, entah sejak kapan berada di genggaman tanganya. Sehingga begitu tangan sosok itu mengangkat tanganya, bersamaan dengan itu scythe itu ikut terangkat keatas. Tentu saja, benda itu di genggam dengan kedua belah tangan sosok itu.
Sedetik itu juga, seberkas sinar terang menghujami kedua mayat itu dengan cahaya. Cahaya yang entah bagaimana terlihat teduh dan menenangkan. Setelah bersinar cukup lama mayat kedua pengendara itu bangkit.
"..HWAAA..." pekik Abdi. Dia terkesiap. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pekikan itu tertahan tatkala Abdi menutup mulutnya dengan tangan. Tentu saja, dia tidak ingin karena pekikanya, sosok hitam tersebut mendengar dan mengetahui tempat persembunyianya.
Dengan perasaan was-was, Abdi kembali mengintip kearah sosok hitam tersebut lagi. Terlihat sosok itu menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan. Sepertinya suara tadi bisa dia dengar. Dan beberapa detik kemudian, pandanganya mengunci kearah persembunyian Abdi. Dia menciut dan merasa tegang, jantungnya serasa mau melompat keluar. Tanganya mendingin.
Cukup lama sosok itu menatap, dia kembali melanjutkan pekerjaanya. Melihat kejadian itu, Abdi bernapas lega. Tentu dia tidak ingin ketahuan, dan lebih tidak ingin lagi apabila sabit besar itu menebas tubuhnya.
Sosok hitam itu membalik. Jika diperhatikan, mayat itu tidaklah hidup kembali. Jadi yang bangkit dan yang tergeletak itu berbeda. Bentuk mereka sama namun entah bagaimana terasa beda. Sepertinya yang tergeletak itu adalah tubuh kasar, sedangkan yang bangkit itu adalah tubuh halusnya.
Dileher dua tubuh halus itu terlihat rantai panjang menjuntai kebawah. Sosok hitam itu lalu meraih rantai dua tubuh halus itu. Dia menggenggamnya. Sedangkan Abdi mengawasi kejadian dihadapanya dengan kesiagaan penuh.
Sosok hitam itu kembali berjalan. Walau tak bisa diketahui pastinya dia berjalan, melayang, atau terbang.
Perlahan dia memasuki terowongan itu. Tentu saja kedua tubuh halus tersebut ikut bersamanya. Kembali dia mengamati kejadian itu dengan seksama.
Perlahan ketiga sosok itu masuk ke terowongan. Setelah ketiga sosok itu masuk sepenuhnya masuk, terowongan itu sepertinya akan menutup. Pemandangan ini membuat Abdi menjadi sedikit rileks. Walau tidak sepenuhnya.
Sedetik, sebelum terowongan itu menutup dengan sempurna, terlihat dua sosok terlempar keluar. Dua sosok itu adalah dua tubuh halus pengendara yang ditarik oleh sosok hitam tadi. Yang membuat Abdi tidak habis pikir adalah mengapa mereka berdua terkesan dimuntahkan. Sepertinya mereka ditolak oleh terowongan itu.
Abdi menggeleng, merasa iba dengan sosok hitam tadi. Pasti dongkol, sudah kerja keras. Eh, ditolak. Tapi..sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk berempati.
Kembali Abdi fokus kepada dua sosok itu. Sosok dua pengendara yang tertolak tadi. Kini mereka tampak saling dorong.
Tidak lama kemudian adu dorong itu berubah menjadi adu pukul. Abdi makin tidak mengerti atas kondisi ini.
Adu pukul itu semakin lama semakin serius. Tampak mereka tidak ada yang mau mengalah alih-alih saling mengalahkan.
Abdi dari tempatnya menyadari sesuatu. Dia merasa bahwa mereka sudah dalam tahap saling bunuh. Terlihat saat adu pukul itu berubah menjadi adu tendang, lalu saling cekik.
Saat mereka saling serang, keanehan terjadi lagi. Tubuh mereka berdua perlahan-lahan berubah. Tidak hanya wujud tapi juga ukuran.
Satu sosok perlahan berubah menjadi sosok berwarna hijau menyeramkan. Ditambah dengan gigi taring bagian bawah mencuat ke atas. Menambah kesan brutal.
Sedangkan perubahan yang dialami sosok yang lain juga tidak kalah mengerikan. Perlahan tubuhnya menjadi gelap. Bulu tumbuh diseluruh tubuhnya. Tidak hanya itu, perlahan kepala sosok tersebut berubah menjadi banteng. Menambah kesan ganas. Dan satu yang pasti. Adalah tinggi badan mereka yang mencapai dua kali lipat tinggi orang biasa.
Abdi merasa menonton pertarungan antar monster.
Si kepala banteng menerjang ke arah si makhluk hijau. Si hijau terpental ke belakang dan jatuh tersungkur. Si banteng tidak mengendurkan serangan. Dia menerjang kembali. Segera si hijau bangkit. Sekarang dia dalam posisi siap menerima terjangan itu. Segera saja kepala si banteng ditangkap. Dengan sebelumnya memiringkan badan khas para matador.
Makhluk hijau itu memutar-putarkan si banteng kemudian melemparkannya. Terdengar bunyi dentuman saat si banteng menghantam tanah. Si banteng bangkit dengan susah payah. Abdi menahan nafasnya melihat pertarungan itu. Tubuhnya menegang. Seakan terbawa oleh suasana.
Tiba-tiba makhluk hijau itu sudah berada dibelakang si kepala banteng. Segera saja kepala si banteng diraihnya. Kepala si banteng itu dipelintir sekuat tenaga. Si banteng meronta memberi perlawanan, berusaha melepaskan pelintiran tapi gagal, lehernya berhasil dipatahkan.
Tubuh itu ambruk. Menggelepar sebentar lalu diam. Diam untuk selamanya. Tiba-tiba, tubuhnya berubah menjadi bola cahaya. Abdi terkesiap melihat apa yang terjadi.
Si hijau segera meraih bola bersinar itu. Lalu benda tersebut ditelanya. Sesaat kemudian tubuhnya membesar. Sangat besar hingga dua kali lipat dari sebelumnya.
Sementara Abdi mengendap-endap menjauh. Tapi sial dirinya lebih dulu kepergok. Sedetik kemudian, makhluk hijau itu mengejar. Spontan Abdi lari tunggang langgang. Ini lebih buruk daripada dikejar orang sekampung karena ketahuan mencuri celana dalam anak gadis pak lurah. Lha, perumpamaan macam apa itu!?
Di tengah berlari tidak tentu arah, terasa tanganya ditarik paksa. Menuju tanaman perdu di sampingnya.
Abdi kaget sekaligus senang mengetahui dia tidak sendirian di kondisi seperti ini. Abdi ingin mengatakan sesuatu namun urung saat tangan itu menutup mulutnya.
"Ssst.." dia menempelkan telunjuknya ke bibirnya sendiri.
Abdi terperanjat mengetahui siapa sosok di depanya ini. Sosok yang saat ini menutup mulutnya itu.
Mata itu. Mata tajam setajam phoenix.
"Saravi!! Apa yang kamu.." begitu Abdi bisa mengeluarkan suara.
"Ssst..pelankan suaramu." Saravi berucap lirih.
Kembali Saravi menarik lengan Abdi. Membawanya ke tempat yang lebih aman.
"Bagaimana kamu kemari?" Saravi menoleh dan melemparkan pertanyaan ke arah Abdi.
"Hey, aku yang bertanya dahulu padamu!!" Abdi protes.
Saat ini makhluk hijau itu kebingungan mencari jejak Abdi. Dia berjalan kesana kemari sembari melihat kebawah. Berharap buruanya terlihat. Namun nihil.
Makhluk hijau itu belum menyerah, terlihat sesekali dia merundukan tubuhnya dan menggerakan kepalanya menoleh kekiri dan kekanan. Namun sang mangsa tetap tak terlihat.
Hal tersebut terjadi untuk beberapa saat. Hingga kemudian makhluk itu berteriak. Meraung-raung tanda kesabaranya sudah hampir habis. Tidak berhenti sampai disitu, makhluk hijau itu juga melompat-lompat dan berlarian kesana kemari tidak tentu arah, bentuk lain ekspresi dari hilang kesabaran.
Perlahan Saravi dan Abdi berjalan merangkak masuk kedalam kolong jembatan. Saravi berjalan dahulu di depan Abdi dan menuntun jalan.
Berjalan merangkak di belakang Saravi membuat Abdi tidak tenang. Bagaimana tidak, saat ini dia disuguhi pemandangan indah di depan matanya. Apalagi kalau bukan pantat Saravi yang terlihat indah membulat. Hingga Abdi tak habis pikir, apakah Saravi tahu kalau pose ini berbahaya. Paling tidak saat ini Abdi merasa dalam bahaya.
Saravi berhenti dan duduk. Abdi mengikuti apa yang dilakukanya. Pandangan mereka berdua tidak lepas dari kewaspadaan.
Sesekali Saravi mengintip pergerakan makhluk hijau itu.
Saravi mendekat kearah Abdi. "Bagaimana sekarang?" saravi setengah berbisik.
Seketika itu juga aroma citrus tubuh Saravi menyeruak ke dalam indra penciuman Abdi. Oh, halo citrus sialan.
Saravi yang merasa tak kunjung mendapat jawaban langsung saja menyiku abdi. Sedangkan Abdi yang merasa lamunanya dibubarkan paksa hanya bisa mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Saravi memandang lekat Abdi. Seolah dia sedang menimbang sesuatu. Dan berusaha mencari sesuatu itu di mata Abdi. Hingga kontak mata itu terputus disaat Abdi mengintip, memastikan pergerakan makhluk hijau tersebut dan mencoba menyelamatkan diri dari tatapan Saravi. Abdi merasa ada desiran saat mereka bertatapan.
"Persiapkan dirimu." Abdi menoleh kearah Saravi. "Sepertinya kita akan terjebak selamanya disini."
Saravi terkesiap. "Eh, kenapa begitu?"
"Aku tidak tahu." Abdi menggeleng. "Aku ..tidak tahu jalan keluar dari tempat sialan ini." Abdi menunduk frustrasi.
Membaca kondisi putus asa orang didepanya, Saravi menangkup wajah Abdi dengan kedua tanganya. Diangkatnya wajah itu hingga mereka saling bertatapan lagi.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi." bisik Saravi penuh kelembutan. "Bagaimana kamu bisa berada disini." Saravi mengulas senyum.
Senyum yang entah bagaimana dapat membuat Abdi merasa tenang. Senyum yang dapat melupakan sejenak semua kejadian mencekam di malam laknat ini.
Sesaat Abdi ter diam. Kemudian menghela napas panjang dia mulai bercerita.
Mulai dari semua mematung, kemunculan terowongan dan sosok hitam, hingga keberadaan makhluk hijau itu. Saravi menyimak cerita Abdi dengan seksama. Dengan ukiran senyum diwajahnya, sesekali gadis itu mengusap punggung tangan Abdi seolah ingin memberi kekuatan kepada Abdi yang terlihat kacau malam ini.
Begitu cerita Abdi selesai, Saravi terdiam. Senyum itu masih disana tapi wajah itu seperti sedang menimbang sesuatu.
"Aku bisa membuatmu keluar dari sini." ucapan yang memberi harapan. "Tapi ada syaratnya." lanjut Saravi.
Merasa mendapatkan secerca cahaya Abdi antusias. "Apa saja." Tanpa berpikir panjang. "Asal aku bisa keluar dari keadaan ini."
"Wow, sabar dulu." tahan Saravi. "Apa kamu selalu bersemangat seperti ini. Kamu yakin bisa memenuhi syarat dariku?" Saravi tersenyum menggoda.
Tetap pada mode semangat. Abdi mengangguk mantap. Walau ada sedikit kebimbangan tapi segera ditepisnya.
Sedetik kemudian senyum menghilang dari wajah Saravi. Digantikan dengan wajah penuh keseriusan.
"Baiklah kalau begitu." Saravi terdiam sesaat. "Kontrak denganku." sesaat Saravi menggigit bibir bawahnya dan sedikit menunduk. "Cium aku."
Setelah ucapan itu selesai, Saravi merasa rasa panas menggerayapi wajahnya. Tentu saja rona itu ada disana. Terima kasih kepada keremangan malam yang membuat rona itu tersembunyi.
Sedangkan Abdi terkesiap mendengar itu. Matanya mengerjap-kerjap salah tingkah. Tapi dia juga geli sendiri mendapati sikap Saravi. Samar dia melihat gadis itu merona. Sungguh manis.
"...huff." Abdi menghembuskan napas kasar. Berusaha menghilangkan kecanggungan. "Jika itu syaratnya." abdi memandang kearah Saravi yang sedikit menunduk. "Aku siap kalau kamu siap." sambung Abdi.
Sebenarnya Abdi tidak yakin dengan ucapanya. Persyaratan itu sungguh gila. Tapi pria itu harus mencoba segala kemungkinan yang ada, walaupun terdengar gila. Bukankah malam ini memang gila.
Sedangkan Saravi masih terdiam dia tidak berani menatap Abdi. Pikiranya berkecamuk. Dia takut jika pria didepanya berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Walaupun gadis itu pasti akan menjelaskan tentu setelah mereka bisa keluar dari malam laknat ini.
"Aku suka aroma citrus yang kamu pakai." pria itu berusaha mencairkan suasana. Dan berhasil mencuri perhatian dan Saravi mendongakan kepalanya. "Itu cocok denganmu." pria itu mengulas senyum.
Begitu juga dengan Saravi. Dirinya yang tegang sedaritadi kini mulai rileks. Sedetik kemudian. "Aku siap." ujar gadis itu penuh keyakinan.
Akhirnya tombol perintah itu ditekan. Segera saja Abdi mengangkat dagu Saravi. Gadis itu merasakan sentuhan pria itu. Hingga semakin lama pandangan mereka makin memburam, diganti deru nafas keduanya yang saling menghangatkan. Hingga kedua bibir keduanya saling bersentuhan penuh kelembutan.
5 detik yang cukup membuat keduanya merasakan darah memompa liar keseluruh pembuluh darah. Hingga salah satu melepas tautanya.
Abdi masih memandangi wajah gadis itu. Walau menunduk tapi dia masih bisa melihat senyum itu.
"JLEGUUUR..!!"
Suara dentuman itu terdengar sangaaaaat dekat dari mereka. Tanah disekitar mereka juga bergetar. Sialan, tentu saja keromantisan saat itu diganti kesiap siagaan penuh.
Suasana kolong jembatan itu kembali mencekam.. Hingga sebuah tangan muncul dari sisi lain. Seketika Saravi menghempaskan tubuh Abdi menjauh. Tapi naas sekarang malah tubuh Saravi yang tertangkap menggantikan pria itu.
Abdi merasa inilah akhir. Dia akan kehilangan gadis itu. Walau sebentar dia sudah merasa gadis itu sangat berarti.
"Saraaviii!!"
Abdi meraung sejadi-jadinya. Seperti tiada arti tubuh Saravi digenggam kuat oleh monster itu. Dia hendak menghancurkan tubuh gadis itu.
Tanpa disadari Abdi, tangan makhluk hijau itu bersinar. Ditangan itu pula Saravi digenggamnya.
Seberkas sinar menyambung dari sesuatu di dalam genggaman monster itu menuju kebawah pusar Abdi.
Tidak lama kemudian monster hijau itu meraung kesakitan. Tangan itu akhirnya meledak. Sebuah sosok menyeruak. Itu Saravi dengan tampilan lain. Dari lehernya yang jenjang keluar seberkas sinar yang menyambung ke bawah pusar Abdi. Selain itu, dipunggung gadis itu terdapat cahaya. Cahaya kuning vermillion dan berbentuk seperti sayap yang mengepak indah. Dia adalah..
"Angel."
.........,..............,....
...,...............................
...........................................
Akhirnya ini bab 4 masih banyak kekurangan disana sini...iya laaaah tentu saja..aku sangat berharap dikasih vote apalagi komen kalian ...trims buat kalian..

Komentar